Tetap Berarti di Usia Senja

No comment 26 views
banner 160x600

FOTO: indonesianphotographe

Tua bukan berarti tak berguna dan tak bahagia. Bagaimana cara mewujudkannya?

Menjadi tua, tak mampu berbuat apa-apa, dan menjadi tak berguna tentu merupakan momok bagi sebagian besar orang. Menjadi tua bisa begitu menakutkan, walau tak ada seorang pun yang dapat menghindar dari usia yang terus bertambah dan mundurnya kemampuan fisik ini.

Hantu Menopause
Menopause merupakan gerbang yang akan mengantarkan seorang perempuan memasuki usia senjanya. Ketika perempuan mengalami masa menopause yang umumnya terjadi mulai usia 45 hingga 50 tahun ke atas, terjadilah serangkaian perubahan biologis pada tubuh perempuan. Hal ini secara alami disebabkan oleh terhentinya produksi hormon esterogen dan hormon-hormon lain yang dihasilkan oleh ovarium.

Tanpa adanya hormon esterogen maka bermunculanlah berbagai persoalan kesehatan. Mengingat, hormon estrogen sangat menunjang seluruh sistem selular tubuh perempuan. Tanda yang paling dikenali dari menopause adalah terhentinya siklus haid. Diiringi dengan masalah di bagian-bagian tubuh lain seperti munculnya semburan rasa panas di sekujur tubuh (hot flushes). Rasa nyeri pun terjadi di mana-mana, antara lain di punggung, lutut, dan panggul. Jika bangun tidur tubuh akan terasa tidak nyaman dan sakit.

Namun, persoalan psikislah yang biasanya paling berat dirasakan kaum perempuan. Gangguan psikosomatik, menjadi cepat marah, khawatir yang tak berdasar, merasa tidak percaya diri, depresi hingga terus-menerus menangis bahkan ada yang tidak ingin bertemu dengan orang lain. Meski ia pergi ke psikiater sekalipun, karena beban psikis yang menekan ini, gejala-gejala yang timbul akibat menopause ini tidak akan hilang. Sebab, yang terjadi bukanlah masalah kejiwaan, melainkan hormon yang sedang tidak stabil.

Shahabiyah di Usia Senja
Menopause boleh terjadi tetapi bukan menjadi “gong” ambruknya prestasi diri. Menjadi tua tak berarti menjadi orang yang tak bahagia, karena tak lagi bisa berguna untuk orang lain. Menjadi tua pun tak berarti kehilangan kecantikan dan pesona pribadi.

Sejenak, mari kita simak sepucuk surat yang pernah dituliskan oleh Ummu Salamah saat usianya melebihi 60 tahun. Surat yang berisi bait-bait indah ini, ia persembahkan pada Aisyah manakala Aisyah bersiap untuk keluar dari rumahnya untuk memobilisasi massa melawan Ali bin Abi Thalib RA.

“Dari Ummu Salamah, Istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam (SAW), untuk Aisyah Ummul-Mukminin...
“Amma ba’du. Engkau sungguh telah merobek pembatas antara Rasulullah SAW dan umatnya yang merupakan hijab yang telah ditetapkan keharamannya. Sungguh al-Qur’an telah memberimu kemuliaan, maka jangan engkau lepaskan. Dan Allah telah menahan suaramu, maka janganlah engkau mengeluarkannya. Serta Allah telah tegaskan bagi umat ini seandainya Rasulullah SAW mengetahui bahwa kaum wanita memiliki kewajiban jihad (berperang) niscaya beliau berpesan kepadamu untuk menjaganya. Tidakkah engkau tahu bahwasanya beliau melarangmu melampaui batas dalam agama, karena sesungguhnya tiang agama tidak bisa kokoh dengan campur tangan wanita apabila tiang itu telah miring, dan tidak bisa diperbaiki oleh wanita apabila telah hancur. Jihad wanita adalah tunduk kepada segala ketentuan, mengasuh anak, dan mencurahkan kasih sayangnya.”

Demikianlah pemikirannya yang tajam. Ia berusaha menjaga kehormatan kaum Mukminin ketika itu dengan melarang Aisyah keluar dari rumahnya guna menentang seorang khalifah yang telah sah dipilih oleh rakyatnya.
Apa jadinya bila Aisyah yang merupakan kesayangan Rasulullah SAW pergi ke tengah-tengah khalayak luas, menyerukan perang, lalu terjun ke dalamnya. Sementara yang diperanginya adalah umat Rasulullah SAW sendiri, orang-orang yang selama ini begitu dikasihi oleh utusan Allah SWT, suaminya yang begitu dicintainya. Maka, di usia senjanya, Ummu Salamah masih dapat memberikan pertimbangan yang sangat tepat untuk melindungi kehormatan Aisyah dan umat Islam.

Di usia senja pula, Khadijah memberikan bukti cinta yang luar biasa pada Muhammad SAW. Bukti cinta yang ditunjukkannya dengan menemani Rasulullah SAW, menjalani masa pemboikotan yang berat. Padahal siapa pun tahu, Khadijah telah berpuluh tahun terbiasa hidup dalam gelimang kemewahan dan pelayanan dari pembantu-pembantunya.

Di usia 62 tahun, Khadijah menemani Rasulullah SAW melewati hari-hari pemboikotan di Syi’ib (pemukiman) Bani Muththalib. Khadijah pula yang mengusahakan bantuan dari berbagai pihak agar menyuplai bahan makanan ke Syi’ib Bani Muththalib.

Ummu Salamah dan Khadijah adalah dua di antara begitu banyak wanita yang berhasil melewati masa menopause mereka dengan baik dan menjadikan masa tuanya tetap memberi kebahagiaan bagi orang lain.

Kunci Bahagia
Tak dapat dipungkiri, menopause memang bukan masa yang menyenangkan. Namun, sejatinya masa ini sama dengan masa ketika seorang perempuan hendak memasuki masa aktifnya siklus haid. Perubahan hormon yang terjadi juga sama dengan masa tersebut. Karena itu, yang terpenting adalah mempersiapkan mental untuk meyakinkan diri kita bahwa setelah menopause, tak akan ada yang berubah dalam diri kita.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa postdoctoral Universitas California, San Fransisco, AS, Alexandra Fiocco, menyimpulkan bahwa tidak semua orang mengalami penurunan fungsi kognitif (berpikir dan bertindak) saat mereka lansia. Alexandra bersama timnya menguji 2.500 pria dan wanita berusia 70 dan 79 tahun yang tinggal di Memphis AS. Kemampuan kognitif responden dites dalam empat sesi, yakni pada awal studi, tahun ketiga, lima dan delapan tahun kemudian.

Seiring berjalannya waktu, kemampuan kognitif para responden memang berkurang. Sebanyak 53 persen mengalami penurunan kognitif minor dan 16 persen penurunan kognitif mayor. Uniknya, 30 persen peserta studi tidak mengalami penurunan, bahkan skor mereka naik alias kemampuan kognitif mereka bertambah baik.
Ternyata ke-30 persen responden tersebut adalah mereka yang tetap beraktivitas dan sebagian besar bekerja sebagai relawan dan bergabung dalam organisasi kemanusiaan. Mereka ditemukan lebih bugar dan memiliki daya ingat yang baik. Kunci lainnya, mereka juga aktif berolahraga dan tetap memperbaharui wawasan mereka.

Selain itu, profesor bidang saraf dan otak dari Universitas Texas, Dr. John Hart, berpesan, “Carilah aktivitas yang berbeda, jadi relawan atau aktif di organisasi. Pokoknya lakukan hal-hal untuk terus mengasah otak.” Selain menjalani pola hidup sehat, untuk menghindari kejenuhan dan rasa kesepian di usia senja, Hart juga menyarankan agar para lansia tidak hidup sendirian.

Menjalani hari tua dengan berusaha menebar kebaikan terhadap orang lain melalui berbagai aktivitas kemanusiaan akan menjadikan seseorang merasa berarti dalam hidupnya. Menghadapi menopause dengan menyendiri dan berlarut-larut dalam kegundahan yang sulit diterjemahkan hanya akan menjadikan masa tua begitu berat dijalani.

Sejatinya, masa tua yang luang dari hiruk-pikuk rutinitas yang melelahkan adalah masa emas meraih maghfirah-Nya. Karena itu, mari mempersiapkan diri agar masa tua kita tetap berarti dan bahagia.SUARA HIHDAYATULLAH NOPEMBER 2009 *Kartika Trimarti, penulis lepas tinggal di Jakarta

Email Autoresponder indonesia
author