Cara Menyuburkan Dzikrul Maut

No comment 19 views
banner 160x600
banner 468x60

Oleh Ainur Rofiq
(Anggota Dewan Syura Hidayatullah)

FOTO; dhanaarsega.blogspot.com

Substansi mengingat kematian bukan semata-mata terhadap waktu dan proses kematian itu sendiri, tapi juga pada apa yang menjadi konsekuensi sesudahnya. Maka untuk menyuburkan kualitas dzikrul maut (mengingat maut), kita harus menempuh langkah-langkah berikut ini:

1. Meningkatkan pemahaman tentang kehidupan sesudah mati.

Aqidah Islam mengajarkan kita tentang keimanan terhadap adanya kehidupan setelah mati, seperti adanya siksa kubur, hari kebangkitan, perhitungan amal, shirat, serta balasan Surga atau Neraka.

Dengan memahami semua perkara ini, setiap Muslim akan menyikapi dan menjalani hidup secara benar. Allah Subhanahu wa Ta'ala (SWT) berfirman:

“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu (kekayaan, jabatan, keturunan), maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (Al-Qashas [28]: 60)

2. Menjadikan dunia sebagai ladang menanam kebajikan dan tempat persinggahan.

Kehidupan manusia di dunia ini ibarat seorang musafir yang menempuh sebuah perjalanan. Ia singgah sejenak di suatu tempat untuk menghilangkan rasa haus dan laparnya serta menyiapkan bekal secukupnya. Kemudian, ia akan melanjutkan kembali perjalanannya menuju tempat tujuan yang sesungguhnya yaitu di kampung akhirat.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) bersabda, “… jadilah di dunia seolah-olah orang asing atau orang yang menumpang lewat”. Ibnu Umar berkata: “Apabila engkau berada pada sore hari maka jangan menunggu pagi, dan apabila engkau berada pada pagi hari maka janganlah menunggu waktu sore. Dan jadikan masa sehatmu sebelum keadaan sakitmu, dan keadaan hidupmu sebelum dating kematianmu” (Riwayat Bukhori)

Pada kesempatan lain Rasulullah SAW bersabda, “Orang bijak adalah orang yang menghitung dirinya dan beramal untuk kehidupan sesudah mati.” (Riwayat Tirmidzi)

3. Menyadari bahwa kematian itu sangat dekat

Bukankah setiap saat kita menyaksikan kematian itu datang silih berganti kepada setiap orang? Kematian datang tanpa pemberitahuan, menimpa siapa saja tanpa pandang bulu. Menimpa yang miskin maupun yang kaya, menimpa yang papa juga penguasa, menimpa yang sakit dan juga yang sehat.

“Telah semakin dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam keadaan lalai (dengan dunia), berpaling (dari akherat)”. (Al-Anbiya [21]: 1)

4. Menjenguk orang sakit dan bertakziah kepada yang ditimpa musibah.

Di antara amal yang dianjurkan dalam Islam adalah menjenguk saudaranya yang sakit, memberikan motivasi serta mendoakannya. Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Hak Muslim terhadap Muslim yang lain itu ada lima, menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengantarkan jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan yang bersin”. (Riwayat Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Ini menjadi momen yang sangat baik bagi setiap Mukmin, selain menumbuhkan kepedulian, juga menyadarkan bahwa kesehatan fisik yang diberikan oleh Allah SWT setiap saat dapat dicabut sesuai dengan kehendak-Nya.

5. Ikut mengurus dan menguburkan jenazah.

Mengurus dan menguburkan jenazah, di samping kewajiban yang bersifat fardlu kifayah, juga meningkatkan kesadaran setiap Mukmin untuk mengingat kematian. Bayangkanlah bahwa kematian itu telah datang menjemput kita. Lalu, tubuh yang telah terbujur kaku di hadapan kita itu adalah diri kita sendiri.

Bayangkanlah, saat kita dimasukkan ke dalam liang kubur yang gelap gulita hanya dengan memakai kain kafan. Tertutuplah pintu amal dan kesempatan untuk bertaubat. Tinggallah amal-amal semasa hidup yang akan dipertanggung jawabkan di hari perhitungan nanti.

6. Berziarah kubur

Kita disunnahkan untuk berziarah kubur. Dalam satu riwayat diceritakan bahwa Rasulullah SAW biasa berziarah ke makam Pahlawan Uhud dan makam ahli Baqi’. Beliau mengucapkan salam dan berdoa untuk mereka, dengan do’a berikut:

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُسْلِمِيْنَ, وَ إِنَّا إِنْشَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ. نَسْأَلُ اللهُ لَنَا وَلَكُُمُ الْعَافِيَةَ.

“Semoga keselamatan bagimu, wahai penghuni kampung (kubur) kaum Mukmin dan Muslim . Sesungguhnya kami –insya-Allah- pasi menyusulmu. Kami mohon afiyat kepada Allah untuk diri diri kami dan juga untuk kalian semua”. (Riwayat Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah)

Rasulullah SAW juga bersabda: “Sungguh tadinya aku melarang kamu menziarahi kubur. Maka (sekarang) telah diizinkan kepada Muhammad untuk menziarahi kubur ibunya. Maka (sekarang) kamu boleh menziarahi kubur, karena itu mengingatkan kamu kepada akhirat”. (Riwayat Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi)

7. Selalu berdoa agar diberi kematian yang diridhai.

Banyak dzikir dan doa yang diajarkan Rasulullah SAW, yang dapat menjadi sarana bagi kita untuk mengingat kematian dan kehidupan sesudahnya. Doa dan dzikir tersebut, misalnya, saat tahiyyat akhir sebelum salam dianjurkan untuk berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ (رواه مسلم)

“Yaa Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur dan dari adzab neraka, dan dari fitnah kehidupan serta fitnah kematian, dan dari fitnah Dajjal” (Riwayat Bukhari)

Banyak Lalai

Walaupun realitas menunjukkan bahwa kematian pasti datangnya dan tanpa pemberitahuan, manusia banyak yang lalai mempersiapkan bekal untuk kehidupannya di akhirat. Beberapa hal yang menjadi kendala bagi manusia untuk mengingat datangnya kematian itu antara lain:

1. Kurang Ilmu

Fakta-fakta yang sangat jelas membuktikan bahwa tidak ada manusia yang hidup terus. Pada zaman ini tidak ada manusia yang usianya melampaui 200 tahun. Lantas, mengapa manusia melalaikan diri dari mempersiapkan datangnya kematian itu?

Boleh jadi sikap melalaikan itu disebabkan karena mereka tidak memiliki ilmu dan pemahaman yang memadai tentang kehidupan sesudah mati. Misal, adanya siksa kubur, jembatan shirat, ancaman surga dan neraka. Mereka merasa seolah-olah hidup hanyalah di dunia saja. Bagi mereka, tidak ada lagi kehidupan dan tidak ada pertanggungjawaban amal setelah mereka meninggal dunia.

“Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja”. (Al-Jaasiyah [45]: 24)

2. Cinta Dunia

Sebagian besar manusia yang lalai akan kematian adalah mereka yang sangat mencintai dunia. Memang, ini merupakan watak dasar manusia. Mereka mengira bahwa dunia ini segala-galanya. Dunia menjadi tujuan mereka dan terminal terakhir dari kehidupan mereka. Allah SWT berfirman:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur”. (At-Takatsur [102]: 1-2)

3. Banyak Tertawa, Sedikit Menangis

Membawa hati kepada sesuatu yang menyenangkan adalah hal yang diperbolehkan, sebagaimana diperbolehkannya orang tersenyum dan tertawa. Tetapi, apabila seseorang bersenang-senang dan tertawa secara berlebihan, akan menyebabkan lalai dari mengingat kematian serta kehidupan akhirat.

Rasulullah SAW mengingatkan kepada setiap Mukmin agar menghindari bersenang-senang serta tertawa berlebihan. Beliau bersabda:
“Jadilah seorang Muslim, dan jangan banyak tertawa; karena sesungguhnya banyak tertawa itu dapat mematikan hati” (Riwayat Tirmidzi)

4. Banyak Bicara Sia-sia

Demikian pula dalam hal berbincang-bincang, manusia memang suka berlama-lama. Mereka berbicara dan menceriterakan sesuatu yang menarik perhatiannya.

Jika perbincangan itu sia-sia dan tidak mengantarkan kepada mengingat Allah SWT, bisa menyebabkan kerasnya hati dari lupa akan akhirat. Rasulullah SAW bersabda, dari Ibnu Umar RA: ”Janganlah kalian banyak berbicara tanpa mengingat Allah, karena sesungguhnya banyak berbicara yang tidak disertai mengingat Allah menyebabkan kerasnya hati. Sesungguhnya manusia yang paling jauh dari Allah adalah hati yang membatu,” (Riwayat Tirmidzi) SUARA HIDAYATULLAH 2008

Wallahu a’lamu bish shawab.***

Email Autoresponder indonesia
author