Tegakkan Peradaban dengan Iman

No comment 12 views
banner 160x600
banner 468x60

Umat manusia saat ini kian sadar bahwa ternyata materi bukanlah segala-galanya. Terbukti, Barat yang telah berjaya dalam pencapaian materi, bukannya meraih kebahagiaan, malah menghadapi krisis kemanusiaan, baik moral maupun spiritual. Ini karena manusia adalah mahluk jasmani sekaligus ruhani, yang memiliki kebutuhan seutuhnya terhadap kedua dimensi itu.

Umat Islam yang memiliki ajaran yang utuh mestinya bisa tampil menawarkan solusi peradaban. Tapi sayang, umat ini tak lagi menjadi model ideal peradaban dunia seperti generasi terdahulu. Sebaliknya, malah banyak umat Islam yang justru terjerembab dalam kebodohan, keterbelakangan, dan kemiskinan.

Maka benarlah ungkapan seorang pembaharu Islam dari Mesir, ”Al-Islamu mahjubun bil Muslimin (keagungan ajaran Islam justru tertutupi oleh keadaan kaum Muslim sendiri).”

Mayoritas kehidupan kaum Muslim membebek pada peradaban kafir dan tertular gaya hidup cinta dunia (wahn). Hal itu membuat mereka lemah sehingga mudah dipermainkan musuh-musuhnya. Lengkaplah sudah penderitaan umat, baik secara lahir maupun batin.

Namun, umat Islam tak boleh terus terpuruk. Bagaimanapun umat ini harus bangkit kembali. Lalu, bagaimana caranya?

Kebutuhan Spiritual

Tokoh psikologi mazhab ketiga, Abraham Maslow, yang semula menempatkan kebutuhan materi sebagai yang pertama, di akhir hayatnya meralat pendapat tersebut. Katanya, ada yang lebih penting dari materi, yaitu kebutuhan transendensi diri (spiritual).

Viktor E. Frankl juga menegaskan bahwa manusia adalah makhluk pencari makna. Berbagai penyimpangan perilaku manusia, menurutnya, karena tidak menemukan makna dalam kehidupannya.

Temuan-temuan itu merupakan antitesis dari pandangan Sigmund Freud yang selama beberapa dekade telah mengakar lama. Manusia, oleh Freud, direduksi ke tingkat hewan karena libido seksualnya dianggap menjadi pendorong utama hidupnya.

Pandangan inilah yang bertanggung jawab atas berbagai tragedi kemanusiaan yang terjadi hingga hari ini, yakni tragedi ketimpangan hidup yang disebabkan oleh terputusnya hubungan spiritual dengan Allah SWT.
Sayangnya umat Islam sendiri sering terkecoh dengan peradaban materialisme. Mereka terkagum-kagum dengan kemajuan materi yang dimiliki bangsa Barat. Padahal harta benda yang dicari demi meraih kesenangan hanya akan menjadi hijab bagi perjalanan ruhani menuju Allah SWT, serta menjadi azab di dunia dan akhirat.
Bukan berarti kita harus mengabaikan kebutuhan akan harta dunia. Namun, harta bukan tujuan, melainkan sarana untuk beramal di jalan-Nya agar bernilai di sisi Allah SWT. Firman-Nya:

Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. (At-Taubah [9]: 55)

Secara kuantitas, tak diragukan lagi, jumlah umat Islam sangat membanggakan. Lebih dari 1,5 miliar umat Islam tersebar di seluruh penjuru dunia.
Namun, saat ini jumlah yang besar itu seperti buih yang terombang-ambing karena mengikuti irama peradaban materialisme.

Dalam beberapa hal, sebenarnya, kita masih bisa melihat kegairahan umat dalam mengamalkan ajaran Islam. Namun, kegairahan ini belum memberikan pengaruh signifikan, sehingga sulit bagi umat Islam untuk menegakkan peradaban Islam dalam kehidupannya.

Peradaban: Manifestasi Iman

Sejatinya, peradaban adalah manifestasi keyakinan dalam setiap aspek kehidupan manusia. Dengan demikian peradaban Islam merupakan manifestasi keyakinan Islam (tauhid) dalam setiap aspek kehidupan setiap Muslim.
Karena itu, peradaban Islam bukan sekadar bagaimana bisa menjalani hidup, tetapi bagaimana hidup dengan semangat iman dan tauhid, yakni dengan menomorsatukan Allah SWT dalam segala hal, dan hanya mencari ridha Allah SWT dalam setiap langkah.

Selama di Makkah, Rasulullah SAW secara intens menumbuhkan keyakinan tauhid itu. Secara sistematis, beliau membimbing para Sahabatnya (assabiqunal awwalun) untuk menanamkan nilai-nilai fundamental itu dalam kehidupan nyata. Wahyu-wahyu Allah SWT di awal kenabian telah mencetak mereka menjadi kader militan yang siap berjuang di jalan Allah SWT.

Surat al-Alaq ayat 1 sampai 5, misalnya, menghantarkan kaum Muslim pada kesadaran untuk mengenal Tuhan Yang Maha Pencipta, serta menyadari bahwa dirinya diciptakan oleh Allah SWT dari segumpal darah. Inilah proses yang akan menumbuhkan kesadaran fitrah untuk menyembah Allah SWT semata melalui deklarasi agung: laa ilaaha illallah.

Jadi, iman bukan semata pemahaman, apalagi pengetahuan, tetapi kesadaran dari dalam jiwa yang bercabang menjadi sikap nilai dan amal shaleh.

Lebih dari itu, iman tidak hanya digunakan untuk hidup secara individual saja, tetapi harus tumbuh dalam kehidupan sosial. Karena itulah saat Makkah tidak kondusif sebagai tempat memanifestasikan iman secara sosial, Rasulullah SAW dan para Sahabatnya diperintah berhijrah. Mereka rela meninggalkan kampung halaman demi iman. Di Madinahlah kemudian manifestasi iman mereka dapat diwujudkan dalam berbagai dimensi kehidupan lebih luas.

Bangunan pertama yang didirikan Rasulullah SAW sesampai di Madinah adalah masjid. Kegiatan utama yang dilakukan Rasulullah SAW dan para Sahabatnya adalah shalat berjamaah. Dalam kegiatan itu manifestasi iman tidak hanya berlangsung secara individual tetapi juga secara sosial, hingga mereka menjadi umat yang terpimpin dan bertujuan.

Manifestasi iman lainnya yang tampak nyata adalah persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar. Mereka mencapai tingkat persaudaraan tertinggi. Hal itu tentu tidak lepas dari semangat iman.
Dari Madinah inilah manifestasi iman memancar ke seluruh jazirah Arab dan penjuru dunia dengan dakwah tauhid. Mereka membebaskan umat manusia dari kegelapan menjadi tercerahkan, bukannya menjajah dan mengeksploitasi seperti kaum imprialis Barat. Mereka inilah umat terbaik untuk umat manusia.

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah... (Ali Imran [3]: 110)

Dengan iman tauhid yang tertanam di dada, bangsa padang pasir yang gemar berperang antar suku, dalam waktu singkat, berubah menjadi bersaudara. Yang semula biadab dan tak diperhitungkan tiba-tiba bangkit dan menjadi guru peradaban dunia. Mereka seolah berubah dari seonggok pasir yang tak berharga menjadi butiran mutiara.

Selama berabad-abad mereka membangun sejarah besar dengan memelopori pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang membentang dari India sampai Spanyol. Karya-karya ilmu pengetahuan mereka menginspirasi dan jadi rujukan dalam berbagai bidang di Barat dan di Timur hingga kini.

Itulah pohon peradaban Islam yang benihnya ditanam oleh Rasulullah SAW. Di Makkah, beliau menyemai, dan di Madinah, benih itu tumbuh dan bercabang-cabang. Buah pohon tersebut menginspirasi sepanjang masa, dari generasi ke generasi, memberikan pencerahan dan keberkahan yang bisa dinikmati dunia.
Di tengah problema dan krisis kemanusiaan saat ini, kiprah umat Islam sangat dinanti. Maka, kepada merekalah kita berteladan. Jadilah umat yang mencerahkan, seperti generasi Qur`an terdahulu.
Tanamlah iman dan hidupkan peradaban Islam kaffatan linnas serta rahmatan lil alamin.
Wallahu a’lam bish-shawab.***SUARA HIDAYATULLAH, MEI 2012

Email Autoresponder indonesia
author