Berislam Secara Kaaffah

No comment 43 views
banner 160x600
banner 468x60

FOTO: dakwatuna.com

“Wahai orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut jejak-jejak setan; sesungguhnya dia (setan) bagi kamu adalah musuh yang nyata.” (Al-Baqarah[2]: 208).

Terkait ayat di atas Prof DR. Buya Hamka dalam tafsirnya, Al-Azhar juz II halaman 172 menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan silmi di situ adalah: menyerah diri secara tulus ikhlas. Lalu disusul dengan kalimat kaaffatan, yang berarti dia sebagai seruan kepada sekalian orang yang telah mengaku beriman kepada Allah supaya mereka berislam jangan masuk separo-separo, atau sebagian-sebagian, tapi masuklah kepada Islam keseluruhannya.

Ibnu Abbas radhiallahu anhu (RA) menafsirkan ayat ini mengenai orang-orang ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) yang telah beriman dan berkata kepada Nabi Muhammad Shallahu ’alaihi wa sallam (SAW): “Ya Rasulullan, hari Sabtu adalah hari yang sangat kami muliakan, biarkanlah kami tetap memuliakan hari itu. Dan kitab Taurat pun kitab Allah juga, sebab itu biarkanlah kami kalau malam-malam tetap sembahyang secara Taurat.”

Maka turunlah ayat ini mengatakan kalau masuk Islam, hendaklah memasuki keseluruhannya, jangan separo-separo. Maka tafsir ayat ini, bahwasannya kita kalau telah mengaku beriman, dan telah menerima Islam sebagai agama, hendaklah seluruh isi al-Qur’an dan tuntunan Nabi SAW diakui dan diikuti. Semuanya diakui kebenarannya dengan mutlak. Meskipun misalnya belum dikerjakan semuanya, tapi sekali-kali jangan dibantah.

Sebagai manusia (hamba Allah) janganlah mengakui ada satu peraturan lain yang lebih baik dari peraturan Islam. Oleh karena itu, hendaknya kita melatih diri, agar sampai kita meninggal dunia, hendaklah kita telah menjadi orang Islam yang 100 persen, seperti firman Allah dalam surat Ali Imran [3] ayat 102 yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan Janganlah kamu mati, melainkan kamu dalam keadaan Muslim.”

Fathi Yakan, dalam bukunya Sifat Dan Sikap Seorang Muslim (terjemahan Jamaluddin Kafie) halaman 43 mengatakan bahwa di dunia ini ada tiga kelompok manusia:

Pertama, kelompok manusia yang hidupnya hanya untuk dunia. Mereka ini adalah golongan materialis, oleh al-Qur’an disebut Ad Dahriyun. Mereka berkata bahwa hidup adalah kehidupan di dunia ini saja, tidak akan dibanggkitkan lagi. Dunia merupakan tujuan dan cita-citanya paling utama, klimaks hidupnya tenggelam dalam kelezatan dunia tanpa perhitungan.

Kedua, kelompok yang kehilangan dua pegangan. Mereka adalah mayoritas orang-orang yng akidahnya lemah. Jalan hidupnya penuh goncangan karena mereka tersesat dalam kehidupan dunianya. Akan tetapi dia masih berprasangka bahwa dirinya telah berbuat dan berada pada jalan yang benar.

Secara teori, mereka percaya akan adanya Allah dan hari Kiamat, tetapi jauh terpisah dengan praktik dalam kehidupan nyata sehari-hari. Mereka menambal dunia dengan mencabik-cabik agamanya. Itulah orang yang kehilangan dua arah tujuan hidup. Semoga kita terhindar dari kelompok tersebut.

Ketiga, kelompok yang menjadikan dunia sebagai ladang akhiratnya. Mereka inilah orang-orang Mukmin yang sebenarnya, yang mengerti benar tentang hakikat hidup ini. Mereka senantiasa ingat akan tujuan hidupnya di dunia. Hal ini sesuai dengan firman Allah.

”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat [51]: 56).

Orang-orang Mukmin menganggap kehidupan dunia ini sebagai medan ujian, sebagai lapangan cobaan untuk berlomba mengerjakan amal kebaikan dan ketaatan kepada Allah. Dunia adalah sebagai sawah untuk bertanam yang hasilnya akan dipetik kelak di hadapan Allah. Maka seluruh hidup mereka ditujukan untuk jalan ke sana.
Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa kita wajib berikhtiar agar Islam dalam keseluruhannya berlaku pada masing-masing pribadi kita. Kemudian masyarkat kita, dan lalu pada negara kita.

Selama hayat dikandung badan, kita harus berjuang terus agar Islam secara keseluruhannya tegak dalam kehidupan kita. Mungkin kita bertanya, mungkinkah? Berapa banyakkah di zaman ini orang yang dapat menjadikan dirinya Islam 100 persen?

Andaikan belum ada, itu bukanlah menunjukkan bahwa ajaran Islam boleh kita pegang setengah-setengah. Kita selalu diwajibkan berusaha untuk mencapai puncak kesempurnaan hidup menurut tuntunan Islam hingga kita meningggal dalam keadaan khusnul khatimah.

Namun, masih ada di antara kita yang mengaku Islam, tetapi menolak cita-cita Islam untuk memberbaiki masyarakat yang diatur oleh syariat Islam. Begitu juga pada perilaku kita sehari-hari. Padahal, sejak kiita lahir lalu di azankan dan di iqamatkan. Diberi nama dan di-aqiqah-kan. Menikah menurut Islam dan bahkan jika meninggal nanti akan diselenggarakan pengurusan jenazah menurut ajaran Islam, insya Allah.

Tapi di sisi lain, apakah kehidupan kita sehari-hari sudah mencerminkan perilaku yang islami? Pakaian yang islami, hiasan rumah yang islami, dan aspek aspek kehidupan lain yang juga islami?
*Djohar Hadi/Suara Hidayatullah JULI 2008

Email Autoresponder indonesia
author