Hati-hati, Anak dan Istri Bisa Jadi Musuh!

No comment 291 views
banner 160x600
banner 468x60


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
“Hai orang-orang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar.” (At-Taghabun [64]: 14-15)

Muqaddimah
Seluruh ayat-ayat dalam surah at-Taghabun tergolong Makkiyah, kecuali ayat di atas yang bercorak Madaniyah. Demikian Imam al-Qurthubi mengawali penjelasannya dalam kitab tafsirnya yang tersohor “Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an.”

Ayat ini turun berkenaan dengan seorang penduduk Madinah bernama Auf bin Malik al-Asyja’i yang memiliki seorang istri dan anak. Disebutkan, acap kali ia hendak turut berperang bersama kaum Muslim, maka istri dan anak-anaknya “sepakat” menangis seraya meratap, “Hendak kemana kamu meninggalkan kami?” Karena tak tahan melihat kesedihan dan ratapan keluarganya, akhirnya Auf urung berangkat berjihad bersama kaum Muslimin lainnya. Lalu turunlah ayat ini mengingkari perbuatan tersebut.

Dalam riwayat yang lain, mufassir ternama Ibnu Abbas pernah ditanya tentang ayat ini, ia lalu menjawab: “Ayat ini turun kepada orang-orang yang telah memeluk agama Islam dan sangat ingin berhijrah, namun tidak pernah mendapat dukungan dari istri-istri dan anak-anak mereka. Hingga suatu saat mereka berkesempatan hijrah ke kota Madinah. Selain melepas rindu dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam rupanya di Madinah mereka juga mendapati para Sahabat mereka kini telah berubah menjadi para fuqaha (ahli dalam bidang fikih).”

Alhasil, orang-orang tersebut lalu sangat geram kepada keluarga mereka. Menganggap diri mereka telah tertinggal dari berbagai kebaikan akibat terhalang oleh perilaku istri dan anak-anak mereka sendiri. Hingga selanjutnya turunlah potongan ayat berikutnya “...Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Hakikat Permusuhan
Suami, istri, dan anak adalah bagian tak terpisahkan dalam sebuah keluarga. Seperti itulah garis fitrah bagi kehidupan manusia. Pada masing-masing mereka, cinta dan kasih sayang itu lalu tercurah dalam bingkai indah bernama pernikahan. Sebuah ikatan suci yang mampu mempertautkan hati-hati mereka. Namun, di sinilah letak kejelian dan kasih sayang Allah dengan segala keluasan ilmu-Nya. Sejak awal, Allah menyalakan sinyal peringatan dini kepada hamba-Nya untuk berhati-hati dalam urusan tersebut.

Meski berbalut hubbun halal (cinta yang halal), namun potensi yang terkandung pada dorongan syahwat bisa saja lepas kendali. Layaknya seekor kuda yang lepas dari tali kekangnya, hewan tunggangan yang semula jinak dan bersahabat tadi tiba-tiba berubah menjadi liar dan memusuhi tuannya sendiri. Alhasil, semangat yang terbangun dalam keluarga bukan lagi spirit kebersamaan dalam kebaikan dan ketaatan. Namun, ia berubah menjadi sarana berbuat keburukan atau saling menutupi ketika ada bibit kebaikan yang ingin bersemai dalam keluarga tersebut.

Senada hal di atas, al-Qadhi Abu Bakar bin al-Arabi berkata, “Permusuhan yang terjadi di sini bukanlah secara hukum asal karena istri dan anak itu pada hakikatnya adalah karunia dari Allah. Namun, mereka bisa berubah menjadi musuh atau lawan karena adanya perbuatan tertentu yang dilakukan oleh mereka. Padahal, tiadalah perbuatan paling buruk dan dimusuhi oleh Allah, kecuali yang berusaha memalingkan kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya.”

Untuk itu, al-Hasan al-Bashri menyatakan, “Kata min azwajikum bermakna sebagian saja (li at-tab’idh). Sebab, hukum asal suatu pernikahan dalam Islam adalah sunnah. Sebagai sarana dan alat peraga efektif untuk saling menguatkan dalam hal kebaikan dan ketaatan di antara sesama mereka.”

Imam Ibnu Katsir lalu mengutip sebuah Hadits yang diceritakan oleh Abu Malik al-Asy’ari. Nabi SAW bersabda, ”Bukanlah permusuhan ini yang jika kalian membunuhnya maka kalian lalu merasa mendapatkan kemenangan. Sebagaimana kalian tak juga dapat jaminan masuk surga, jika kalian terbunuh dan dikalahkan dalam permusuhan ini. Sebab, boleh jadi musuh-musuhmu tak lain adalah anak keturunan yang lahir dari rahim tulang rusukmu sendiri.” (Riwayat ath-Thabrani).

Fitnah untuk Semua
Di akhir pemaparannya, Imam al-Qurthubi menyimpulkan, ayat ini mencakup perintah berhati-hati secara umum, baik kepada laki-laki sebagai suami maupun perempuan sebagai istri. Meskipun secara tersurat lebih ditujukan kepada laki-laki sebagai nakhoda utama dalam sebuah keluarga. Namun dalam tataran realitas, tak ada jaminan jika titik permasalahan itu selalu bersumber dari istri dan anak. Sebab, boleh jadi noda permusuhan itu justru bertolak dari sang suami itu sendiri sebagai seorang kepala keluarga.

Rasulullah SAW mengakui hal tersebut sebagaimana dikisahkan oleh Abu Buraidah. Suatu ketika Nabi SAW sedang khutbah di hadapan para Sahabat. Tiba-tiba kedua cucunya al-Hasan dan al-Husain melintas di depan mimbar. Masing-masing memakai baju merah sambil berjalan tertatih-tatih (layaknya anak kecil yang belajar berjalan). Menyaksikan hal itu, Nabi SAW segera turun menggendong keduanya. Nabi SAW lalu berkata seraya tetap memangku keduanya, “Sungguh benar (perkataan) Allah dan rasul-Nya, sesungguhnya harta-harta kalian dan anak-anak kalian adalah fitnah. Saya melihat kedua anak ini berjalan sambil tertatih-tatih dan saya tak bisa bersabar menyaksikannya. Hingga akhirnya saya sendiri yang memotong pembicaraan saya lalu meraih kedua anak itu.” (Riwayat Imam Ahmad)

Abdullah bin Mas’ud dengan bijak lalu mengajarkan, jika seseorang berdoa kepada Allah, janganlah ia berkata: “Ya Tuhan kami, bebaskanlah kami dari fitnah ini.” Sebab, sesungguhnya tak ada seorang pun yang bisa terlepas dari ujian dan cobaan tersebut. Jika seseorang pulang ke rumah menemui istri, anak, dan hartanya, maka tak lain semua itu mengandung fitnah yang dikhawatirkan. Tak seorang pun bisa terbebas dari kumpulan fitnah ini, sebab sejatinya itu semua adalah kecenderungan yang telah digariskan sejak awal oleh Allah Ta’ala kepada seluruh manusia. Allahu al-Musta’an.* Masykur, guru Bahasa Arab di Pesantren Hidayatullah Balikpapan
SUARA HIDAYATULLAH, DESEMBER 2012

Email Autoresponder indonesia
author