Kaum Sufi: Jauh Dunia, Jauh Syariat?

No comment 17 views
banner 160x600

Oleh Nur Faizin Muhith*

FOTO: jakarta45.wordpress

Di pertengahan abad kedua hijriyah, para sufi mulai mengembangkan teori dan ajaran-ajaran sufistik. Mereka banyak berhutang kepada para filosof, ulama kalam, ulama fiqh dan yang lain, hingga kemudian muncullah generasi sufi yang mengaku dan menyatakan: seorang sufi cukup melakukan wirid dan zikir saja. Akhirnya al-Qur’an pun ditinggalkan.

Setidaknya ada dua kecenderungan sufi dalam menginterpretasi al-Qur’an. Pertama, sufi teoritis-filosofis, yaitu para sufi yang hanya membangun teori-teori dan ajaran sufistik. Kedua, sufi realistis-aplikatif, yaitu sufi yang benar-benar menjalankan ajaran-ajaran sufistik dalam dinamika kehidupannya sehari-hari, dalam bentuk zuhud, penyucian jiwa dan hati, serta larut dalam kehadiran Tuhannya.

Contoh sufi yang pertama adalah seperti yang dipresentasikan Muhyiddin Ibn Arabi (560-638 H), yang banyak terkontaminasi oleh teori filsafat klasik dan aliran panteisme. Misalkan, ketika menginterpretasikan firman Allah: "Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. " (Asy-Syams: 9-10).

Dia menafsirkan: jiwa hanya bisa suci dengan cara bertemu Tuhannya. Makhluk (manusia) ini tercipta dari ketiadaan menjadi makhluk yang berwujud, semata karena pertemuannya dengan Zat Tuhan. (lihat kitab At-Tafsir wal Mufassirun, Dr. Adz-Dzahabi) .

Sementara untuk contoh sufi realistis-aplikatif yang paling berpengaruh adalah Sahal At-Tustari (wafat 283 H) seorang sufi yang ârif billâh (makrifat kepada Allah). Dia mengatakan, Allah tidak akan menjadikan seorang sebagai wali-Nya kecuali Allah SWT akan mengajarkan al-Qur’an kepadanya, secara dhahir maupun batin. Dia menafsirkan firman Allah SWT: "Kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara…" (Thaha [20]: 88).

Anak lembu (yang melalaikan itu) adalah segala sesuatu yang memalingkan manusia dari Allah SWT, baik istri atau anak. Manusia tak dapat lepas dari jeratnya kecuali setelah memuaskan nafsunya, sebagaimana penyembah lembu itu tidak berhenti kecuali setelah membunuh diri.

Sufi, Dunia dan Syariat
Persepsi yang berkembang selama ini, sufi adalah orang yang melihat segala sesuatu dengan pancaran hati, berjuang untuk selalu zuhud dari wanita dan masalah dunia, serta hanya mementingkan dimensi-dimensi ruhiyah belaka. Dari sisi ritual yang dibaca, kaum sufi tidak suka membaca al-Qur’an, melainkan hanya hizib, shalawat, wirid dan doa-doa dalam jumlah dan kadar tertentu yang wajib diulang-ulang setiap hari (baca : diwiridkan).

Entah kenapa, ada stigma yang yang melekat pada kaum sufi bahwa mereka tidak akrab dengan al-Qur’an. Padahal al-Qur’an adalah hudan linnas wa bayyinat (petunjuk bagi manusia dan bukti kebenaran). Kaum sufi dicitrakan sebagai kaum tarikat yang membawa tasbih ke mana-mana. Mereka meninggalkan urusan dunia, tetapi tak akrab dengan hal-hal berkaitan dengan syariat.

Terminologi "sufi" diduga muncul pertama kali dari istilah ahlush shuffah (shuffah menjadi suffi kemudian sufi) di awal era Rasulallah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW). Ahlush shuffah adalah sahabat Muhajirin yang meninggalkan harta benda mereka, berhijrah dari kampung kelahiran menuju kota Madinah untuk menjadi pengikut Rasulallah SAW secara langsung. Oleh Rasulullah SAW, mereka ditempatkan di serambi masjidnya. Jumlah mereka cukup banyak. Yang paling terkenal di antara mereka adalah Abu Hurairah, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Watsilah bin Al-Asqa`. Mereka adalah para fakir yang hidup dari pemberian atau tumpangan makan seadanya dari sebagian sahabat yang berada.

Pernah suatu hari Abu Hurairah berkata: "Mungkin kalian bertanya-tanya tentang aku yang banyak meriwayatkan Hadits dari Rasulallah SAW. Ketahuilah, sesungguhnya aku adalah seorang fakir yang menyertai Rasul SAW, aku makan hanya untuk mengganjal perutku, sementara para sahabat Muhajirin sibuk berdagang di pasar dan para sahabat Anshar pun sibuk mengurus harta bendanya."

Abu Hurairah adalah sahabat shuffah yang paling antusias dalam menghafal Hadits-Hadits Rasulallah SAW. Dapat dipastikan, bahwa gairah beliau kepada al-Quran tentu jauh lebih menggelora baik dalam bentuk menghafal, memahami dan juga menjalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Ada seorang Syaikh sufi yang sangat terkenal di zamannya. Ia bernama Ibrahim Al-Khawwash (wafat 291 H : 904 M). Tetapi dia dikenal menempatkan al-Qur’an pada urutan pertama. Selanjutnya menganjurkan berlapar-lapar, ber-qiyam (shalat) malam, zikir malam, dan terakhir bersahabat dengan orang shalih. (lihat kitab: Ar-Risalah Al-Qusyairiyah, vol . I).

Tilawah sufi
Tilawah atau membaca al-Qur’an bagi kaum sufi tidaklah berbeda dengan tilawah umat Islam pada umumnya, yaitu dilakukan sesuai etika–etika tilawah. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya` Ulumuddin menyebutkan sejumlah etika berinteraksi dengan al-Qur’an, antara lain:
Pertama, seharusnya dilakukan dengan penuh hikmat dan dalam keadaan bersih dan suci. Kedua, menjadikan al-Qur’an sebagai bacaan rutin (wirid) dengan jumlah tertentu untuk menghatamkannya. Ketiga, tartil dalam bacaan dan tajwidnya. Keempat, memperhatikan tempat ayat-ayat sajdah.. Kelima, membacanya dengan suara sedang dan indah didengar.

A`idh Al-Qarni, penulis buku best seller La Tahzan (Jangan Bersedih) mengatakan, "Hiduplah bersama al-Qur’an dengan menghafal, membaca, dan merenungkannya, karena sesungguhnya ia adalah penyembuh kesusahan dan pengusir kesedihan."

Bisa kita pahami, cerita para sufi terdahulu yang sering pingsan saat membaca al-Qur’an, seperti yang terjadi pada Ja`far Ash-Shadiq yang jatuh pingsan di tengah-tengah shalatnya. Dalam tingkatan ini pula dapat kita pahami perkataan Utsman dan Hudzaifah bahwa hati yang suci tidak akan pernah kenyang membaca al-Qur’an.

Larut dalam zikir kepada Allah SWT tidak hanya dialami oleh sufi ketika membaca wirid-wiridnya saja, tetapi membaca wirid (rutin) al-Qur’an justru dapat membawa hati mengingat hanya kepada Ilahi secara penuh sebagaimana ketika berzikir dengan doa-doa selain al-Qur’an, atau bahkan lebih.

Ketika membaca al-Qur’an dan kemudian menemui ayat-ayat yang bercerita tentang pujian dan sanjungan bagi orang-orang shalih serta balasan-balasannya, tidak sepantasnya kita berpikir bahwa kita sudah termasuk di dalamnya dan berhak atas balasan yang sudah dijanjikan oleh Allah SWT dalam untaian kalam-Nya. Sebaliknya, jika menemui ayat-ayat yang mengkisahkan celaan bagi yang berbuat maksiat serta ancaman dan balasannya, maka seharusnya kita berpikir bahwa firman itu ditujukan kepada kita, sehingga kita semakin bertambah takut kepada-Nya.

Walhasil, kaum sufi, adalah orang-orang yang sangat dekat dan sangat akrab dengan al-Qur’an. Kalaupun ada orang penganut sufi yang jauh dari syariat dan al-Qur’an, maka secepatnya dia berintrospeksi dan memohon ampunan Allah. Wallahu a`lam. SUARA HIDAYATULLAH NOPEMBER 2008
*Mahasiswa pascasarjana, Departemen Tafsir al-Qur’an, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Peserta Daurah Mufti Darul Ifta` Mesir.

Email Autoresponder indonesia
author