Peta Baru Dunia Islam, Siapa Untung?

No comment 53 views
banner 160x600
banner 468x60

Oleh Herry Nurdi*

Dalam jurnal Armed Force Journal, Juni 2006, seorang Perwira Intelijen Amerika Serikat (AS) menuliskan sebuah laporan menarik. Dalam tulisannya, Ralp Peters, nama perwira itu, membeberkan peta baru untuk Timur Tengah dan Asia Selatan. Menurut sang perwira, peta ini memang tidak mencerminkan doktrin resmi Departemen Pertahanan AS, Pentagon. Namun peta ini dijadikan bahan ajar dalam training-training perwira yang bertugas di NATO dan juga dijadikan materi pelatihan perencanaan militer dalam National War Academy.
Dalam peta itu, digambarkan akan muncul negara-negara baru, seperti Free Baluchistan yang muncul di antara wilayah Pakistan, Afghanistan, dan Iran. Baluchistan Merdeka ini dibentuk untuk mengimbangi kekuatan Iran, Afghanistan, dan Pakistan yang dikhawatirkan suatu saat akan diluar kendali.
Ada pula Kurdistan Merdeka yang akan mencaplok wilayah Turki, Irak, dan Suriah. Wilayah dan suku Kurdi sampai hari ini masih menjadi masalah besar bagi Turki dan juga Irak. Turki menganggap, Kurdi adalah salah satu bentuk standar ganda negeri adi daya di wilayah ini.
Sementara Iraq yang telah diinvasi oleh AS pada 2003 akan dibagi menjadi dua negara. Negara Syiah dan negara Sunni.
Hari ini, cikal bakal dua negara ini terbentuk dan dibangun oleh AS dengan cara membangun security wall yang memisahkan wilayah Syiah dan Sunni. Konon, untuk menjaga keselamatan warga Sunni atau Syiah.
Wilayah negara Jordania akan membesar, dan tentu saja setelah melalui proses perseteruan dengan Arab Saudi. Arab Saudi sendiri disebut sebagai sebuah negara yang persis seperti istana pasir yang sangat bergantung pada minyak. Negara ini rapuh dan akan terpecah menjadi dua. Disebutkan, Mekah dan Madinah akan berdiri sendiri sebagai sebuah negara independen bernama Islamic Sacred State. Sementara di Yaman, tetangga Arab Saudi akan berubah konstelasi politiknya terutama di perbatasan yang didiami oleh kelompok Syiah.

Sudan juga sudah lama diprediksikan (atau diproyeksikan?) untuk terbelah menjadi dua: Sudan Selatan dan Utara. Kini, berkat referendum Sudan telah menjadi dua wilayah yang berbeda. Perubahan peta Dunia Islam ini tentu saja akan diwarnai dengan perebutan kekuasaan besar-besaran yang tak jarang dibuka dengan gejolak sosial seperti yang terjadi di Tunisia, Mesir dan terus merembet ke Yaman, Jordan, dan beberapa wilayah lainnya.
Hal ini tepat seperti yang ditulis oleh Oded Yinon dalam doktrinnya yang tercantum pada Kivunim yang dikeluarkan oleh The World Zionist Organization. Disebutkan, dunia Arab sedang dalam setting negara asing Semuanya terbuat dari kombinasi minoritas dan kelompok etnis yang bermusuhan satu sama lain, sehingga setiap Muslim di wilayah Arab zaman ini, akan menghadapi kehancuran sosial etnis dari dalam, dan dalam beberapa di antara mereka mengalami perang sipil, perang saudara, dan amuk massal.
Dunia Islam diibaratkan seperti bangunan rumah kartu yang disusun oleh kekuatan-kekuatan besar. Setiap zaman, penguasa-penguasa selalu berusaha menata ulang Dunia Islam. Karena kepentingan negara-negara besar di dunia Islam, wabil khusus di Timur Tengah dan Asia Selatan sangat vital dan signifikan.
Di Mesir saja, ada dua kepentingan besar yaitu Terusan Suez dan keamanan Israel. Maka menjadi taruhan besar bila membiarkan Mesir menjadi bola liar. Terusan Suez menjadi perlintasan perdagangan dunia, terutama minyak dengan angka yang fantastis, sekitar 4 juta barrel per hari minyak melintas di wilayah ini. Dan keamanan Israel, tentu saja juga menjadi taruhan penting. Itu sebabnya Mesir menjadi penerima bantuan luar negeri terbesar kedua dari AS setelah Israel, untuk menjaga agar negara Zionis yang dikepung negara-negara lain yang dianggap ancaman.
Gelombang revolusi di dunia Islam yang bermula dari Tunisia dengan Revolusi Melati, akhirnya membuat Presiden Zainudin bin Ali melarikan diri ke Arab Saudi.
Revolusi Wikileaks
Beberapa pengamat Timur Tengah juga menyebut gejolak di Tunisia dengan sebutan Revolusi Wikileaks. Mau tidak mau, memang perlu menyebut Wikileaks sebagai salah satu pemicu gejolak di Tunisia.
Ketika situs Whistleblower Wikileaks merilis ribuan dokumen berisi kawat diplomatik kedutaan AS di seluruh penjuru dunia untuk Washington yang berisi laporan kondisi di negara masing-masing, salah satu yang sangat kontroversial adalah kawat-kawat diplomatik dari Tunisia. Dalam laporan tersebut, Tunisia disebut sebagai negara yang dikepung oleh korupsi, perampokan-perampokan tak tersentuh yang dilakukan oleh keluarga elit penguasa.
Dalam dokumen kawat diplomatik berkode #08TUNIS679, segala kebejatan keluarga elit penguasa Tunisia terbuka, mulai dari korupsi, monopoli bisnis, penjarahan usaha potensial sampai dengan perampasan tanah dan pencurian kapal mewah. Ketidakadilan pemerintah Tunisia, sulitnya ekonomi, pengangguran yang hebat, perut rakyat yang lapar ditambah dengan bocoran Wikileaks atas segala salah guna kuasa, menjadi semacam perfect combination for disaster.
Ketika kawat-kawat diplomatik kedutaan AS bocor oleh Wikileaks, Presiden Obama memberikan statemen tentang kekhawatirannya atas keselamatan puluhan ribu tentara AS yang tersebar di seluruh dunia. Tapi pertanyaannya hari ini bisa kita ubah dan sesuaikan, siapa yang dirugikan dengan gejolak dunia Islam yang sedikit banyak disumbang oleh bocornya kawat-kawat diplomatik kedutaan AS oleh Wikileaks?
Gejolak di Tunisia, Mesir, Yaman, Jordan, dan negara-negara lain di Dunia Islam, yang malangnya memang banyak dipimpin oleh para penguasa otoriter, masih akan terus berlangsung.
Penduduk internasional belum tahu benar, ke mana semua akan bermuara. Tapi pertanyaan di bawah ini pantas diajukan, siapa yang diuntungkan dengan semua gejolak yang terjadi di dunia Islam ini? Apakah rakyat Mesir, atau elit politik di negeri-negeri yang bergejolak, atau siapa?
Kelak, ketika gejolak ini semua telah reda, satu-satu bisa kita periksa siapa yang diuntungkan, atau siapa yang mengambil keuntungan. Dan mohon, kelak jangan mudah lupa tentang sejarah besar yang sedang kita lalui bersama ini agar kita tak alpa mengambil pelajaran berharga yang sangat berguna.
*Penulis adalah wartawan dan penulis buku. SUARA HIDAYATULLAH, MARET 2011

Email Autoresponder indonesia
author