Sufyan: Selesaikan Disertasi Meski Jantung Bocor

banner 160x600
banner 468x60

DOK.SAHID-Anshor

Sufyan, 42 tahun, duduk hanya dengan memakai sarung. Nampak warna hitam dan benjolan kecil di kedua kakinya. Sudah dua tahun ini kaki Sufyan digerogoti tetanus.

Kendati begitu, ketika Suara Hidayatullah berkunjung ke rumahnya pertengahan Agustus lalu, Sufyan seolah tak sedang sakit. Tangannya sibuk menulis sesuatu. “Saya sedang menyelesaikan disertasi,” ujar Sufyan di kediamannya di Desa Sambibulu, Kecamatan Taman, Sidoarjo, Jawa Timur.

Ruang tamu berukuran 3 x 3 meter yang disulap menjadi tempat belajar itu sedikit berantakan. Ada komputer, tiga tumpukan makalah, dan dua kotak berisi obat-obatan. “Maaf, tempatnya kurang rapi. Maklum, sedang menyelesaikan tugas kuliah,” kata lelaki murah senyum ini.

Sufyan berharap, ujian disertasinya pada bulan Desember tahun 2010 ini tidak molor gara-gara sakit. “Saya merasa berdosa, jika hanya gara-gara sakit tugas ini terbengkalai,” ungkapnya.

Ujian Bertubi-tubi
Kejadian naas itu bermula pada tahun 2008. Saat itu, suami dari Siti Chudfaidah ini sedang membenahi rumahnya. Tanpa disadari, tiba-tiba telapak kaki kanan Sufyan tertusuk paku berkarat. Beberapa hari kemudian, badan Sufyan pun menggigil.

Menurut hasil diagnosis dokter, kuman masuk dan berkembang di kaki. Walhasil, kedua kaki Sufyan terasa kaku dan sulit digerakkan. Sufyan harus menjalani rawat jalan.

Namun, meski dirinya belum sembuh total, Sufyan sudah berani mengajar. Tak tanggung-tanggung, dalam sepekan Sufyan mengajar di empat tempat sekaligus; Sekolah Tinggi Agama Islam Lukman Al-Hakim (STAIL) Surabaya, Institut Keislaman Abdullah Faqih (INKAFA), STAI Al-Khozini, dan Universitas PGRI Adibuana (UNIPA).

Padahal jarak keempat kampus tempat Sufyan mengajar cukup jauh. Waktu tempuhnya ada yang 30 menit hingga 1 jam. Setiap hari Sufyan diantar istrinya dengan sepeda motor. Tawaran cuti dari kampus ia tolak.

“Mengajar sudah menjadi bagian hidup saya. Bahagia sekali bisa berdiskusi dengan mahasiswa” tegas Sufyan.

Tanpa disadari, sakit yang diderita Sufyan justru semakin parah. Bahkan dirinya pernah hampir pingsan saat mengajar. Ceritanya, ketika dia sedang serius menjelaskan sesuatu di depan kelas. Tiba-tiba Sufyan tersengal-sengal dan kesulitan bernafas. Untung saja, sebelum terjatuh seorang mahasiswa segera menolongnya.

Kata Sufyan, dari hasil diagnosis dokter diketahui salah satu klep jantungnya bocor karena infeksi. Tidak hanya itu, penyakit di kedua kaki Sufyan juga bertambah parah. Kakinya menjadi bengkak dan menghitam. “Dari lutut hingga ujung kaki mati rasa dan tak bisa digerakkan,” ujar Sufyan menuturkan.

Untuk mengobati penyakitnya, Sufyan menjual seluruh barang berharga yang dimilikinya. Mulai dari mobil, tiga sepeda motor, laptop, spring bed, panci hingga kuali. Yang tersisa kini hanyalah rumah. “Yang penting bisa sembuh. Harta bisa dicari lagi,” tuturnya.

Alhamdulillah, setelah berobat, sakit yang diderita Sufyan berangsur pulih. Kendati belum pulih sepenuhnya. Hingga kini kedua kakinya masih bengkak dan hitam, jalannya belum sempurna dan sakit di jantungnya juga terkadang masih terasa. Setiap hari, Sufyan secara rutin harus meminum obat.

Tak Putus Beramal
Kini, Sufyan naik ojek dan angkutan umum. Karena kakinya belum sembuh total, Sufyan berjalan terseok-seok seperti orang pincang. Dua perban di kakinya masih belum boleh dilepas.

Kendati sakit, seluruh aktivitas Sufyan berjalan seperti sedia kala. Dia masih sibuk mengisi ceramah, mengajar, dan menyelesaikan disertasi. Bagi Sufyan, sakit adalah karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengandung banyak hikmah. Jadi, menurutnya, tidak ada alasan untuk tidak beraktivitas.

Aktivitas yang paling getol dilakoninya adalah berbagi ilmu, terutama ilmu tentang pendidikan. “Mendidik calon guru sama saja mendidik generasi masa depan,” ujarnya.

Hal itu pula yang mendorong Sufyan mengambil konsentrasi Pemikiran Pendidikan Islam untuk gelar doktoralnya di Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Judul disertasinya, Guru Profesional dalam Perspektif Pendidikan Islam. Judul tersebut diambil, karena Sufyan menemukan banyak ayat di dalam al-Qur`an yang menerangkan masalah pendidikan.

Meski tidak mudah, Sufyan berhasil menyelesaikan penulisan disertasinya. Dalam kondisi sakit Sufyan harus berburu dan membaca lebih dari 500 literatur. Syukurlah, sang istri setia mendukung dan menemani Sufyan berburu buku ke berbagai perpustakaan dan toko buku. Bahkan, sewaktu diopname beberapa hari di rumah sakit, Sufyan juga tetap menulis dan membaca buku.

Bagi Ustadz Abdul Koliq, Ketua STAI Lukman Al-Hakim Surabaya, Sufyan adalah dosen yang luar biasa. Menurutnya, Sufyan memiliki dasar keilmuan yang kuat. “Jika berbicara, beliau selalu menggunakan rujukan,” ujar Abdul Kholiq.

Tidak hanya itu, Abdul Kholiq juga menilai Sufyan sebagai sosok dosen teladan. “Kendati sakit, dia tetap mengajar. Dia sangat sabar dan tidak pernah mengeluh,” tuturnya.

Pekerja keras
Perjalanan hidup Sufyan penuh perjuangan. Sufyan terlahir dari keluarga tidak mampu. Ayahnya seorang tukang cukur rambut sedang ibunya pedagang kecil. Karena itu, ketika Sufyan ingin kuliah, orangtuanya angkat tangan. Lantas, Sufyan pun berjuang sendiri.

Untuk biaya kuliah, Sufyan mengajar dari satu sekolah ke sekolah yang lain. Dari hasil mengajar itulah dia mendapat biaya kuliah, dari sarjana Strata 1 hingga Strata 3.

Sufyan mempunyai prinsip mandiri. Sufyan tidak mau mengandalkan orang lain. Pernah ada saudaranya yang siap membiayai kuliahnya, tapi ditolaknya. Sejak kuliah juga, Sufyan tidak pernah mengajukan beasiswa. “Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Rezekinya lebih berkah,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Siti Chudfaidah, istri yang juga mantan muridnya di sekolah dulu, dibiayai kuliah oleh Sufyan hingga S2. Kini, Chudfaidah telah menyelesaikan tesis dan tinggal ujian.

Hingga saat ini Sufyan dan Siti telah dikaruniai tiga orang putri. Pertama, Siti Sufiyah Adawiyah (kelas 3 SMA), kedua, Dita Rohmaniatul Muslimah (kelas 2 SMP), dan Reza Istiqamatul Hidayah (kelas 6 MI).

Putri pertamanya, Siti Sufiyah, termasuk anak yang cerdas. Siti disekolahkan di dua tempat, di SMAN SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) di Bangil, dan di pesantren Raudhotul ‘Aqaidi di Cangar, Bangil, Jawa Timur. Meski sekolah di dua tempat, namun dia selalu menyabet juara pertama.

Ada satu hal yang ditekankan Sufyan kepada putri sulungnya, yakni jangan belajar bahasa Inggris sebelum belajar bahasa Arab. “Haram hukumnya belajar bahasa Inggris, tapi tidak paham bahasa Arab,” ujar Sufyan berpendapat.* Syaiful Anshor/Suara Hidayatullah-OKTOBER 2010

Email Autoresponder indonesia
author