“Beri Bantuan Nyata dan Maksimal untuk Suriah”

banner 160x600
banner 468x60

Angga Dimas Pershada, S.Apt

Pepatah Jawa: usul, mikul! rasanya tepat dilekatkan kepada Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI). Dianggap sebagai inisiator kampanye peduli Suriah, HASI didaulat oleh sejumlah tokoh Islam menjadi wakil umat Islam Indonesia untuk membantu rakyat Suriah yang tengah dizalimi penguasanya sendiri, rezim Syi’ah Nushairiyah, Basyar al-Assad.

Hingga laporan ini ditulis, jumlah rakyat Suriah yang tewas karena peperangan mencapai 36.795 jiwa. Sedangkan jumlah pengungsi mencapai 1,5 juta orang.

Mulai Juni 2012, HASI telah melakukan kampanye penggalangan dana untuk Suriah di Jakarta dan beberapa kota di pulau Jawa. Setelah sebulan kampanye, terkumpul dana Rp 200 juta. Akhir bulan Juli lalu, HASI mengirim tim pertamanya ke Suriah. Yakni empat relawan; Angga Dimas Pershada, S.Apt (Ketua Tim), dr Dwi Anton BC (medis), dr Adisurya Dharma (medis), dan Abu Harits (penerjemah).

Pertengahan bulan lalu, HASI berkunjung ke kantor redaksi Suara Hidayatullah. Berikut petikan wawancara redaksi dengan Ketua Tim Pertama HASI untuk Suriah, Angga Dimas Pershada.

Berapa lama HASI bertugas di Suriah dan daerah mana?
Kami di Suriah 20 hari, di Kota Salma, Provinsi Latakia. Sebelumnya kami di kamp-kamp pengunggsi Suriah yang tak terdaftar (unregistered) di perbatasan Turki-Suriah.

Kami memberikan pelayanan medis kepada para pengungsi dan pejuang kebebasan Suriah. Kami juga mendata segala hal dan kebutuhan yang dibutuhkan di sana yang bisa kami bagi kepada ormas-ormas dan lembaga masyarakat yang ingin membantu perjuangan rakyat Suriah.

Bantuan apa yang paling mendesak?
Saya tidak bisa sebutkan satu persatu. Tapi ada dua yang paling mendesak, yang pertama, bantuan dokter spesialis bedah vaskular (urat) dan spesialis bedah ortopedi (tulang) dengan perangkat obat-obatan dan alat-alat medisnya. Kedua, dana untuk kehidupan sehari-hari para pengungsi.

Bagaimana HASI melayani pengungsi dan korban perang Suriah, sedangkan seluruh rumah sakit di sana dikuasai rezim yang memburu rakyatnya?
Kami mendirikan klinik-klinik lapangan yang disebut mustasyfa' maidan di rumah-rumah warga yang dipinjamkan kepada kami secara sukarela dan di gua-gua. Klinik lapangan harus tersembunyi, jika ketahuan pasti dihancurkan. Dan hal itu terjadi pada tim kedua HASI yang menyebabkan satu relawan dokter terluka karena runtuhan bangunan.

Bagaimana cara mendaftar dan mendapat informasi bagi dokter-dokter yang ingin menjadi relawan ke Suriah?
Jika ada dokter yang ingin membantu bisa mengirimkan biodata ke: hilalahmar_society@yahoo.com atau telepon ke nomor 083899998830. Kemudian kami akan melakukan fit and proper test. Dalam wawancara kami akan ceritakan kondisi di sana dengan risiko-risiko yang mungkin terjadi. Minimal mereka bertugas di sana satu bulan. Dan, yang membiayai perjalanan, akomodasi, dan seluruh biaya operasi adalah HASI.

Bagaimana keadaan di Suriah?
Keadaannya sangat tidak normal dan sangat sulit. Sumber-sumber utama untuk hidup minim. Seperti air sangat sulit di daerah perkotaan, listrik harus dengan generator, bensin langka dan mahal dengan harga 70 Lira per liter (sekitar Rp 210 ribu). Makanan pokok yakni roti dan gandum sulit. Namun para pengungsi di perbukitan bisa makan buah-buahan. Kondisi keamanan juga parah sekali.

Sudah berapa tim yang dikirim HASI ke sana?
Sudah dua tim. Tim yang pertama berangkat pada 12 Juli 2012 selama sekitar sebulan. Kami menggalang dana sejak Juli 2012, hingga sekarang sudah terkumpul lebih dari Rp 1 miliar. Yang disalurkan sekitar 40.000 USD atau Rp 400 jutaan.

Dari pengamatan Anda di sana, adakah ketidaksesuaian informasi antara fakta lapangan dengan berita yang disajikan media massa?
Jelas ada. Misalnya, isu yang mengatakan pasukan revolusi didukung oleh Amerika Serikat. Selama kami di sana dan bergaul dengan semua orang, kami tidak mendapatkan bukti jelas mereka dibantu Amerika. Mereka pun mengatakan tidak ada bantuan Amerika kepada mereka.

Isu lainnya yang tidak akurat yakni bahwa Basyar al-Assad anti-Israel dan pro-Palestina. Dengan izin Allah kami bertemu dengan pengungsi Palestina di Suriah yang bercerita bahwa Basyar al-Assad ternyata juga membantai rakyat Palestina di Suriah sehingga mereka yang tersisa kini telah keluar dari Suriah.

Anda sempat menyinggung tentang fenomena “Wisata Bencana” dan aksi “cash and carry”, bisa dijelaskan?
Nasihat untuk kami dan semua elemen umat yang ingin membantu, agar memberikan bantuan yang maksimal. Yakni memberi bantuan sekaligus bekerja untuk mereka di tempat bencana. Atau cukup di dalam negeri dengan menggalang dana.

Agar tidak terjadi -istilah kami- cash and carry atau wisata bencana. Yakni membawa bantuan yang tidak maksimal dengan membawa rombongan yang banyak tapi tidak memiliki tugas jelas. Lalu di sana hanya untuk mengantar uang kemudian foto-foto dan pulang.

Itu tidak efektif dan tidak efisien. Mengirim uang bisa ditransfer ke rekening. Kalau butuh ke sana untuk bukti laporan, cukup dua orang saja yang berangkat. Supaya tidak terjadi penyalahgunaan bantuan umat untuk korban-korban konflik.

HASI menjadi perwakilan pertama dari Indonesia yang masuk ke Suriah, bagaimana kerjasama HASI dengan ormas-ormas Islam dan lembaga kemanusian lainnya?
Sejak awal kami sudah berkomunikasi dengan ormas-ormas untuk mengangkat isu Suriah dan melakukan aksi nyata ke sana. Kami berkomunikasi ke Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Forum Umat Islam, Front Pembela Islam, ke Majelis Mujahidin, dan lainnya. Mereka mendukung kami untuk mengawali aksi ke sana, hasilnya akan kami paparkan ke umat dan mengajak siapa saja untuk berkontribusi. Kami sadar hal ini akan berlangsung lama dan tidak ringan.* Surya Fachrizal/Suara Hidayatullah NOPEMBER 2012

Email Autoresponder indonesia
author