Astaghfirullah, Indonesia Juara ‘Esek-Esek’ Di Internet

banner 160x600

FOTO: KASKUSBerdasarkan data dari www.toptenreviews.com, Indonesia ada pada urutan ke-3, yang pengguna internetnya suka membuka situs porno, setelah Vietnam dan India.

Tak kalah mengejutkan, setiap hari rata-rata dua video porno diproduksi di Indonesia. Video-video amoral itu bukan dibuat oleh produser ahli, bahkan yang membuat justru anak-anak remaja yang biasa menggunakan telepon genggam. Video itu lalu disebarluaskan melalui internet dan dikopi secara tular-menular melalui handphone (HP). Karenanya jangan heran, jika anak-anak SMP dan SMU dengan mudah memutar video porno melalui HP tanpa sepengetahuan orangtua atau guru-guru mereka.

Berdasarkan data penelitian lagi, saat ini beredar lebih dari 500 judul film porno buatan lokal, 90 persennya dibuat oleh anak-anak muda di Indonesia.

Fenomena inilah yang ditangkap Menteri Komunikasi dan Informtika (Menkoinfo) Dr. Mohammad Nuh DEA, dengan lahirnya Undang Undang (UU) Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Dengan UU baru ini, pemerintah berkuasa memblokir dan menutup situs-situs porno dan menjebloskan si pembuat/penyedia ke penjara. Dalam Pasal 27 (1) para pelaku/pendistribusi akan dipidana paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar.

Melihat fenomena itu dan efektivitas UU baru ini, wartawan majalah Suara Hidayatullah, Cholis Akbar, mewawancarai, Romi Satria Wahono (34), doktor bidang IT lulusan Departement of Computer Science di Saitama University, Jepang. Romi juga dikenal sebagai peneliti di Pusat Dokumentasi Informasi Ilmiah (PDII) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Sebagai ahli bidang IT, bagaimana Anda melihat keberadaan UU ITE?
UU ITE diharapkan bisa mengatur segala urusan dunia internet, termasuk di dalamnya memberi punishment terhadap pelaku kejahatan dunia maya (cybercrime). Di berbagai literatur, cybercrime dideteksi dari dua sudut pandang.

Pertama, kejahatan yang menggunakan teknologi informasi sebagai fasilitas; pembajakan, pornografi, pemalsuan/pencurian kartu kredit, penipuan lewat email (fraud), email spam, perjudian on line, terorisme, dan isu sara menyesatkan. Kedua, kejahatan yang menjadikan sistem teknologi informasi sebagai sasaran. Di antaranya, pencurian data pribadi, penyebaran virus komputer, pembobolan situs, cyberwar, denial of service (DOS), dan kejahatan yang berhubungan dengan nama domain.

Secara umum, bisa kita katakan UU ITE cukup mewakili untuk disebut cyberlaw karena muatan dan cakupannya luas, meskipun di beberapa sisi ada yang belum terlalu lugas dan juga ada yang terlewat (misalnya masalah spamming dan virus/worm). Tapi kedudukan UU ini sangat penting untuk mendukung lancarnya kegiatan para pebisnis internet, melindungi akademisi, masyarakat dan mengangkat citra Indonesia di level internasional.

Sejauh mana efektivitas UU ini mencegah ekses-ekses negatif dari internet?
UU ini hanya salah satu cara dari tiga cara yang bisa digunakan untuk mencegah pemanfaatan internet secara negatif. Tiga cara pencegahan itu adalah: hukum (dengan undang-undang seperti UU ITE), teknologi (dengan filter, peningkatan security) dan socio-culture.

Yang paling efekfif adalah socio-culture. Membuat generasi muda kita sibuk dengan berbagai kreativitas dan project adalah salah satu teknik socio-culture. Dengan itu generasi muda kita tidak sempat lagi melihat pornografi atau menjadi cracker yang melakukan pengrusakan. Guru, dosen dan juga orangtua harus siap dengan konten pendidikan dan penugasan ke siswa sehingga siswa tidak terjebak ke arah yang negatif, itu syaratnya.

Sebelum ada UU ITE, seberapa parah cybercrime di Indonesia?
Yang sempat saya catat adalah; Pertama, meski Indonesia pengguna internet masih rendah (8 persen), tetapi dalam cyberfraud terutama pencurian kartu kredit (carding) menduduki urutan kedua setelah Ukraina (ClearCommerce). Kedua, Indonesia menduduki peringkat empat masalah pembajakan software setelah China, Vietnam, dan Ukraina (International Data Corp). Ketiga, menurut data dari www.alexa.com, 30 besar traffic ke Indonesia relatif dikuasai oleh situs-situs atau forum-forum pornografi, selain tentu situs bermanfaat seperti www.Google.com, www.wikipedia.org atau www.ilmuKomputer.com.

Keempat, beberapa cracker Indonesia tertangkap di luar negeri, misalnya di Singapura, Jepang dan Amerika. Kelima, data AKKI, sejak tahun 2003 hingga kini, angka kerugian akibat kejahatan kartu kredit mencapai Rp 30 miliar per tahun. Hingga pertengahan 2006 mencapai 27.804 kasus (APJII). Gara-gara itu, banyak layanan e-commerce di luar negeri banyak yang memblok IP dan credit card dari Indonesia.

Efeknya kita mendapatkan image negatif dari dunia Internasional berkenaan dengan fakta-fakta di atas. UU ITE memiliki misi juga untuk menaikan image Indonesia di level Internasional.

Bagaimana seandainya Indonesia diberi kebebasan akses internet seperti negara lain tanpa perlu UU semacam ini?

Dari satu sisi pornografi saja, efek ke generasi muda kita sudah pasti parah. Untuk itulah, China sangat ganas memberangus para pengembang situs pornografi. Ratusan orang dimasukkan ke penjara karena berhubungan dengan pengembangan dan penyebaran konten pornografi.

Amerika saja cukup ketat dalam UU Child Pornography, bahkan sudah masuk ke tindakan aktif dengan menjebak para pedofili lewat chatting dan forum di internet. Belum efek negatif dari jenis cybercrime yang lain.

Adakah software lain selain alat-alat IT yang bisa mencegah seseorang secara permanen berbuat jahat dan pornografi di internet?
Tidak ada yang bisa 100 persen mencegah. Semua aspek hanya meminimalisir. Pertumbuhan pornografi terlalu pesat dan banyak. Bahkan nilai ekonomi yang mengitari bisnis pornografi mencapai 100 miliar USD, bahkan dikatakan lebih besar daripada income perusahaan besar Amerika jika digabungkan (Microsoft, Yahoo, Google).

Kabarnya, pendiri Microsoft, Bill Gates "membatasi" anaknya menonton games. Sebagai orangtua dan ahli IT apa tanggapan Anda?
Membatasi harus, tapi melarang seluruhnya saya pikir bukan hal yang baik. Internet seperti pisau, yang bisa kita gunakan untuk memasak daging di dapur dengan enak, dan bisa juga untuk membunuh orang. Tidak mungkin saya melarang anak saya untuk memegang pisau, atau dalam hal ini internet. Yang saya lakukan adalah controlling: pasang komputer di ruang tamu, ingatkan anak-anak kalau berlebihan dalam memainkan game. Dan beri pengertian masalah pornografi di internet ke anak-anak kita.

Melihat perkembangan internet yang luar biasa, bagaimana seharunya umat Islam menanggapi?
Penetrasi pengguna internet di Indonesia mencapai 8 persen menurut www.internetworldstats.com. Jadi jumlahnya sekitar 20 juta (No 14 sedunia). Tidak ada media massa manapun yang memiliki oplah melebih internet, dan ini waktu demi waktu akan terus bertambah. Ini media besar untuk melakukan dakwah dan memberi pencerahan ke masyarakat.

Para dai kita juga banyak yang masih konvensional, padahal bisa memanfaatkan web, blog, radio internet untuk menyebarkan kalimat-kalimat Allah di wilayah yang lebih luas. Beberapa ustadz kita sudah cukup melek IT, bahkan kadang bikin script sendiri untuk situsnya. Kita bisa melakukan dakwah melalui media internet. Bahkan saya sudah usulkan untuk mencoba membuat jaringan Ustadz 2.0, yaitu konsultasi dan dakwah dengan berbasis ke Web 2.0 dengan berbagai karakteristiknya.

Umat Islam, baik yang di Indonesia ataupun di luar negeri harus konsentrasi ke konten. Menurut data dari TopTenReviews.Com, pencarian kata "Sex", "Porn" dan "xxx" justru sebagian besar dilakukan oleh negara Islam dan negara berkembang. Kalau kita biarkan ini sangat menakutkan untuk ke depannya. SUARA HIDAYATULLAH JUNI 2008

Email Autoresponder indonesia
author