Cadar Versus Bikini

No comment 64 views
banner 160x600
banner 468x60

Berbagai upaya dilakukan untuk menyerang Muslim, seperti pelarangan cadar, jilbab, karnaval anti Islam, kartun Nabi Muhammad SAW dan kampanye pemilu. Termasuk juga membuat undang-undang anti-Islam.

Seorang gadis tampak mengenakan kerudung dan cadar di wajahnya. Selembar abaya hitam, senada dengan warna kerudungnya, menutupi pundak dan lengannya, sementara bagian depan tubuhnya dibiarkan terbuka, hanya menggunakan bikini. Ada selembar kertas yang menutupi dadanya, yang bertuliskan “Vrijheid of Islam?” artinya, kebebasan atau Islam?

Kepada pers Belgia awal Februari 2012 lalu, gadis muda itu mengatakan tidak merasa dimanfaatkan oleh partai politik yang menyewanya untuk melancarkan kampanye anti-Islam. Hal itu justru menjadi pernyataan sikapnya. Tidak heran, karena model wanita berusia 19 tahun itu adalah putri politisi Belgia Filip Dewinter, pemimpin partai sayap kanan, Vlaams Belang.

Vlaams Belang, seperti partai sayap kanannya di Belanda dan Prancis, sangat anti dengan cadar dan pakaian wanita Muslim. Dia menganggapnya sebagai simbol penindasan dan belenggu Islam atas kaum perempuan.

Politisi di ketiga negara tersebut seakan berlomba menjadi yang pertama untuk memberlakukan larangan terhadap cadar. Prancis adalah negara pemenangnya. Sebab, lebih dulu menerapkan dan mendenda para wanita yang tidak takut dengan larangan itu, disusul kemudian oleh Belgia. Di Belanda, meskipun sudah disahkan oleh pemerintah dan parlemen, polisi yang bertugas di lapangan, masih berusaha mengulur waktu dan mencari dalih agar larangan tersebut tidak diimplementasikan.

Kanada yang terletak di Amerika Utara, pemerintah daerahnya sudah ada yang menerapkan wajib membuka cadar bagi penduduk yang berurusan dengan polisi dan kantor layanan sipil. Demikian pula Australia, negara “Barat” yang berada di dunia belahan timur.

Sedangkan di Italia, sebuah negara di mana siapa pun termasuk pengusaha hitam, pegila seks dan pelacur dapat menjadi pejabat tinggi pemerintahan, keadaannya tidak berbeda dengan negara tetangganya. Pakaian Muslimah dan aturan syariat Islam lain senantiasa menjadi bahan manipulasi politik, karena dianggap tidak sesuai dengan negara, yang di tengah ibukotanya terdapat wilayah independen Vatikan, tempat Tahta Suci Katolik dunia berpusat.

Swiss, negara di jantung Eropa yang bangga dengan netralitasnya dalam politik internasional, pada 29 Nopember 2009 melakukan referendum nasional hanya untuk memutuskan, apakah menara masjid boleh berdiri di wilayah negaranya. Menara masjid di tangan para politisi sayap kanan, SVP, menjadi sebuah alat untuk menakut-nakuti warganya akan gerakan “islamisasi” di Eropa, khususnya Swiss. Mereka sukses, dan menara masjid pun dilarang.

Negeri Kristen dan Yahudi

Setiap pertengahan Februari, negara-negara Eropa menggelar karnaval satir, yang memamerkan berbagai karya patung menyindir aneka isu dan tokoh dunia. Islam tidak pernah absen menjadi bahan olok-olok dalam parade itu. Dalam karnaval, 20 Februari 2012 lalu, di kota Duesseldorf, Jerman, ditampilkan patung kertas berbentuk seekor katak hijau. Katak itu bersorban dengan lidah menjulur berusaha melahap seekor kupu-kupu. Lidah katak bertuliskan “Islamisierung” atau islamisasi. Sementara si kupu-kupu ditulisi “Arabischer Fruhling” yang merujuk pada revolusi rakyat di Arab satu tahun terakhir, Arab Spring.

Dalam karnaval yang sama tahun 2007, untuk melecehkan ajaran Islam peserta membuat dua patung berbentuk pria berjenggot, bersorban, tangan kiri memegang pistol, tangan kanan memegang pedang dan mengenakan sabuk dinamit dengan wajah garang serta mulut menganga lebar. Satu patung ditempeli tulisan “realita” dan satunya “klise”.

Jerman juga sempat diramaikan dengan debat isu pelarangan cadar dan menara masjid. Namun, hingga kini larangan nasional atas menara masjid dan cadar sepertinya belum akan diterapkan, meskipun Partai Uni Kristen Demokrat di wilayah Hesse ingin mengharamkan cadar.

Negeri Adolf Hitler itu memilih jalan “integrasi” untuk menundukkan Islam. Pemerintah, bekerjasama dengan perguruan-perguruan tinggi terkemuka, berupaya mendidik Muslim dengan pendidikan Islam versi Jerman. Pusat-pusat kursus dan pendidikan Islam dibuka, materi keislaman rancangan para akademisi Jerman diperkenalkan di sekolah-sekolah untuk siswa Muslim, bahasa Jerman didorong untuk segera dipelajari dan dipakai oleh para imigran.

“Sekarang kita nyata-nyata melihat kehadiran Muslim di Jerman. Tapi perlu diperhatikan terkait Islam, bahwa nilai-nilai yang diusung Islam harus sesuai dengan konstitusi kita. Apa yang berlaku di sini adalah konstitusi, bukan (hukum) syariah,” kata Kanselir Angela Merkel, seorang putri pendeta Kristen Lutheran, awal Oktober 2010.

“Kebudayaan kita berdasarkan pada nilai-nilai Kristen dan Yahudi, dan itu telah berlaku selama ratusan tahun, mungkin ribuan tahun,” imbuh Merkel, saat berkomentar di hadapan para wartawan tentang integrasi Muslim yang dianggapnya gagal.

Angela Merkel adalah politisi dari partai konservatif, Uni Kristen Demokrat (CDU), yang berjanji akan melarang jilbab saat mereka memenangi pemilu tahun 2005 dan menguasai pemerintahan Jerman. Ia pernah mengatakan bahwa pembangunan masjid harus dicermati dengan seksama, agar tinggi menaranya tidak melebihi menara gereja.

Pertengahan bulan Februari 2012, Merkel mendukung Joachim Gauck, seorang pendeta dan mantan aktivis HAM Jerman Timur, yang dianggapnya dapat memberikan dorongan penting bagi Jerman, sebagai calon presiden menggantikan Christian Wulff.

Demi Suara

Pada pertengahan Januari 2012, Sekretaris Jenderal Organisasi Kerjasama Islam (OKI), Ekmeleddin Ihsanoglu, menyatakan keprihatinannya atas politisi-politisi Barat yang kerap menjadikan Islam sebagai sasaran tembak. Pernyataan Ekmeleddin tersebut terkait musim kampanye pemilu presiden di Amerika Serikat dan pemilu parlemen di sejumlah negara Eropa.

Nicolas Sarkozy, mungkin adalah contoh politisi Barat yang paling getol memainkan isu Islam dalam dunia politik, di samping politisi sayap kanan Belanda, Geert Wilders. Apa saja tentang Islam dipermasalahkan oleh politisi keturunan Yahudi itu. Sarkozy adalah orang pertama yang menyuarakan anti cadar di Prancis, negara pusat mode yang memberikan kebebasan desainer dunia untuk membuat aneka model pakaian. Dia menyuarakan identitas nasional Prancis, untuk menyudutkan imigran Muslim yang dianggap tidak mau menyesuaikan diri dengan budaya setempat. Dengan tindakannya itu dia berharap mendapatkan suara dari kelompok nasionalis.

Belum lama ini Sarkozy berusaha merebut hati imigran Armenia dan kelompok anti-Islam untuk pemilu mendatang. Caranya, dengan mengusulkan rancangan undang-undang yang mengkriminalkan orang-orang yang tidak mengakui genosida rakyat Armenia oleh pasukan Kekhalifan Utsmani pada tahun 1915, ketika negara-negara Eropa memberontak dari kekuasaan Islam yang berpusat di Turki. RUU itu disetujui parlemen, namun kemudian dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi Prancis akhir Februari 2012, menjelang disahkan oleh Sarkozy sebagai presiden.

Awal Maret 2012, Sarkozy harus kembali bersilat lidah melawan seteru politiknya, Marine Le Pen. Gara-garanya Le Pen mengatakan bahwa seluruh daging yang beredar di Prancis disembelih menurut aturan Islam, cara yang dianggap tidak manusiawi oleh masyarakat Barat. Sarkozy pun turun ke daerah, dan mengungkap bahwa penyembelihan hewan “halal” hanya sekitar 2,5% dari total daging di pasar Prancis. Bukan apa-apa, politisi Yahudi ini juga perlu makan daging kosher (halal versi Yahudi). *Khadija/Suara Hidayatullah APRIL 2012

Email Autoresponder indonesia
author