Intelijen Zaman Rasulullah SAW

No comment 4 views
banner 160x600

FOTO: primaironline

Sebagai negara yang memiliki kedaulatan, Madinah (pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) juga memiliki sejumlah perangkat fital untuk melindungi diri, baik ancaman dari luar, maupun dalam. Dan intelijen adalah salah satu perangkat itu.

Terutama saat terjadi krisis antara Madinah dengan musuh-musuh dakwah, seperti Quraish, beberapa kabilah Yahudi sampai imperium Romawi, kekuatan intelijen Muslim telah melakukan perannya dengan sangat baik. Sehingga tak jarang, berbagai pertempuran dimenangkan berkat lihainya para informan, dalam memperoleh informasi mengenai kekuatan lawan. Sekalipun tidak bisa dipungkiri bahwa ada faktor lainnya yang juga ikut berperan, bantuan Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT).

Tidak hanya para sahabat Rasulullah SAW yang bergerak dalam sektor ini. Beliau sendiri pernah melakukan aktivitas intelijen di beberapa kesempatan.

Nah, untuk mengetahu lebih lanjut mengenai kiprah para intel Muslim di masa Rasulullah SAW, silahkan membaca lebih lanjut ulasannya dalam Ihwal edisi ini. Selamat mengikuti…*Thoriq/Suara Hidayatullah

Perang Intelijen Saat Perang Badar

Para informan sama-sama melakukan peran mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) sendiri ikut ambil bagian dalam aktivitas ini

Kala itu, Rasulullah (SAW) bertolak dari desa Dafiran, untuk melakukan perjalanan menuju sebuah tempat dekat Badar. Tidak ada yang menemani perjalanan beliau, kecuali Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyallahu anhu (RA). Di tempat itu, beliau bertemu dengar seorang laki-laki tua yang tinggal di pedalaman gurun (badui). Rasulullah SAW lalu bertanya perihal kedatangan kaum Quraish, juga kedatangan pasukan beliau sendiri. Lelaki itu menolak memberikan informasi, kecuali setelah beliau berdua membuka identitas.

Rasulullah SAW tidak menyerah dengan jawaban itu, beliau membalas, ”Jika engkau memberi tahu kami, maka kami memberi tahu kalian.” Memperoleh jawaban demikian, orang tua itu memastikan,”Apakah dengan memberi tahu tentang mereka, kalian memberi tahu dari siapa kalian?” Rasulullah SAW menjawab, ”Iya.”

Akhirnya lelaki tua itu membuka mulut, ”Telah sampai kepadaku berita bahwa Muhammad dan para sahabatnya keluar dari Madinah pada hari begini-begini. Jika yang memberitahuku jujur, maka mereka hari ini sudah sampai tempat begini-begini. Dan telah sampai kabar kepadaku bahwa Quraish keluar dari Makkah pada hari begini-begini, kalau yang memberi tahuku jujur, maka pada hari ini mereka sudah sampai tempat begini-begini.”

Setelah lelaki itu memberikan informasinya, ia ganti bertanya kepada Rasulullah SAW, “Dari siapa kalian?” Rasulullah SAW menjawab sambil berlalu meninggalkan lelaki tua itu, ”Kami dari air…”

Informasi yang diberikan laki-laki tua itu amatlah berharga bagi umat Islam. Karena dengan mengetahui kondisi musuh, maka pasukan Islam memiliki persiapan lebih matang dan informasi itu bisa dijadikan pijakan dalam menentukan strategi bertempur. Bahkan lebih dari itu, walau mendapat informasi lengkap, karahasiaan identitas kaum Muslimin tetap terjaga. Ini bisa terwujud karena Rasulullah SAW menyembunyikan identitas. Maka pihak Quraish pun tidak bisa mengorek keterangan dari laki-laki Badui tersebut mengenai kondisi pasukan Muslimin.

Rasulullah SAW tidak hanya menyembunyikan identitas, tapi beliau menutup kemungkinan laki-laki itu untuk berpikir bahwa beliau berdua begian dari kelompok Muslim, dengan menanyakan keadaan pasukan Muslim sekaligus pasukan Quraish kepadanya. Tentu cara yang ditempuh Rasulullah SAW ini adalah cara yang amat cerdik.

Peristiwa yang disebutkan oleh Ibnu Hisyam dalam As Sirah An Nabawiyah (2/459) itu menunjukkan bahwa praktek intelijen telah digunakan sejak masa Rasulullah SAW, juga menunjukkan bahwa beliau sendiri amat memperhatikan pentingnya aktivitas ini, guna melawan kekuatan Quraish.

Tidak hanya kaum Muslimin yang melakuan pengintaian, pihak Quraish juga memiliki orang-orang pilihan untuk melakukan spionase. Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa setelah berdekatan dengan lembah Badar, kaum Quraish mengutus Umair bin Wahb Al Jamhi, untuk mencari tahu kekuatan pasukan Muslimin.

Tidak membutuhkan waktu lama, laki-laki ini kembali dengan membawa kabar bahwa jumlah pasukan Muslimin sebanyak 300 laki-laki, dengan beberapa tambahan. Akan tetapi, ‘intel musyrikin’ ini masih belum puas dengan informasi ini. Ia minta izin untuk kembali, guna memastikan apakah jumlah itu jebakan, atau masih ada bantuan pasukan lainnya. Dan setelah ia melakukan pengintaian lagi, ia begitu yakin, ”Mereka tidak memiliki tempat berlindung, kecuali dengan pedang-pedang mereka,” katanya

Mengetahui Kekuatan Musuh dari Jumlah Logistik
Adapula aktivitas intelijen lainnya. Rasulullah SAW kembali ke pasukan, tapi beliau masih perlu mengutus Ali bin Abi Thalib, Az Zubair bin Awam, dan Sa’ad bin Abi Waqash untuk mencari informasi mengenai kekuatan pasukan musuh. Sedangkan Rasulullah SAW menyusul kemudian.

Dikisahkan, setelah dekat sumur Badar Ali bin Abi Thalib beserta Az Zubair bin Awam bertemu dengan dua orang budak. Setelah ditanya, mereka mengaku sebagai pemberi minum kaum Quraish. Namun, karena pengakuan itu, mereka berdua dipukuli oleh sekelompok orang yang juga berada di tempat itu. Hingga akhirnya, mereka mengatakan bahwa mereka pembantu Abu Sufyan, dan sekelompok orang tersebut berhenti mumukul dan meninggalkan mereka berdua. Rasulullah SAW yang saat itu berada di tempat itu menegaskan kepada para sahabat bahwa pemukulan terhadap kedua budak itu menunjukkan bahwa keduanya berkata benar, bahwa mereka memang dari kaum Quraish.

Akhirnya ganti Rasulullah SAW yang bertanya kepada kedua budak itu, ”Berapa jumlah mereka?” Mereka menjawab, ”Banyak.” Rasulullah SAW kemudian menanyakan jumlah hewan yang dipotong untuk mereka setiap harinya. ”Kadang sembilan, kadang sepuluh ekor.” Informasi sederhana itu amat cukup bagi Rasulullah SAW, hingga akhirnya beliau berkesimpulan bahwa jumlah mereka antara sembilan ratus hingga seribu.

Informasi mengenai pasukan musuh terus-menerus dikumpulkan. Tidak hanya oleh Rasulullah SAW sendiri, tapi para sahabat juga ikut berpartisipasi. Seperti yang dilakukan oleh Basbas bin Amru dan Adi bin Abi Az Zaghba’. Mereka sama-sama bertolak menuju Badar. Setelah tiba di sumur Badar, mereka bertemu dua budak perempuan yang saling berebut mengambil air. “Besok atau lusa akan datang kafilah, bekerjalah untuk mereka…” Setelah itu, budak lainnya mengalah. Kedua sahabat Rasulullah SAW tersebut mendengar percakapan itu, akhirnya mereka kembali untuk memberi kabar kepada Rasulullah SAW mengenai kedatangan pasukan Quraish.

Itulah sekilas mengenai aktivitas intelijen menjelang meletusnya perang Badar, yang terjadi pada Jumat pagi, 17 Ramadhan tahun kedua setelah hijrah. *Thoriq/Suara Hidayatullah
Boleh Berbohong Saat Perang
Dalam operasi intelijen, menyembunyikan identitas adalah hal mutlak diperlukan. Sebagaimana dilakukan Rasulullah SAW saat bertemu dengan laki-laki Badui, ketika beliau bermaksud mengorek keterangan. Kepada lelaki itu beliau tidak terus terang menjawab bahwa beliau adalah Rasulullah SAW, walau laki-laki itu bertanya. Beliau hanya jawab “Dari air...”, maksudnya diciptakan dari air mani.

Yang dilakukan Rasulullah SAW tidak bisa disebut kebohongan, tapi inilah yang disebut tauriyah, yakni mengungkapkan fakta, walau fakta itu bukan fakta yang diinginkan oleh lawan bicara.

Adapun berbohong dalam arti sesungguhnya, yakni mengungkapkan hal yang berbeda dengan fakta, Imam Al Ghazali yang diikuti oleh Imam An Nawawi, dalam Al Adzkar (hal. 608-610), menyatakan kebolehannya, jika dilakukan dalam peperangan dan untuk kemaslahatan umat Islam. Tapi ada satu syarat: bahwa itulah satu-satunya cara.

Pendapat tersebut berdasarkan pada Hadits yang diriwayatkan oleh Umu Kultsum, ”Dan aku tidak mendengar beliau memberi rukhshah (keringanan) sama sekali dari apa yang dikatakan oleh manusia, kecuali dalam tiga hal: peperangan, memperbaiki hubungan manusia, serta pembicaraan laki-laki terhadap istrinya atau istri terhadap suaminya. (Riwayat Al Bukhari). *Thoriq/Suara Hidayatullah
Operasi Intelijen Madinah

Aktivitas intelijen Madinah, dari mencari informasi kekuatan dan menyusup ke barisan lawan, hingga mencari jejak

Kiprah intelijen Madinah, tidak hanya terekam saat perang Badar terjadi. Dalam beberapa kondisi krisis lainnya, peranan intelijen juga terlihat. Berikut ini, beberapa operasi intelijen Madinah, yang telah dicatat oleh para sejarawan Muslim.

Intel Madinah Menyusup ke Tengah Barisan Musuh
Saat Yahudi dan Quraish melakukan koalisi untuk melakukan penyerangan terhadap Madinah, pihak Muslim berhasil mengetahui rancana itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) kemudian memerintahkan para sahabat membuat parit, guna membentengi Madinah, hingga terjadilah perang Khandaq di bulan Syawal tahun ke-5 setelah hijrah.

Tatkala pasukan Quraish tertahan di luar parit, dan berhadapan dengan angin yang berhembus amat kencang, Rasulullah SAW segera memerintahkan Hudzaifah bin Yaman menyusup ke dalam berisan musuh. Tanpa banyak kesulitan, beliau berhasil bergabung dengan kelompok Quraish, dan mendapatkan informasi bahwa Abu Sufyan, memerintahkan pasukannya untuk kembali ke Makkah, disebabkan cuaca buruk.
Lebih dari itu, saat itu Hudzaifah sebenarnya memiliki peluang membunuh Abu Sufyan, ”Kalau seandainya Rasulullah SAW tidak berpesan kepadaku agar tidak ada yang terbunuh hingga aku kembali, maka aku akan membunuhnya dengan busur.” (As Sirah An Nabawiyah, 3/154,166)

Intel Quraish Tertangkap
Diriwayatkan oleh Abu Ishaq, kaum Quraish telah mengirim 40 atau 50 mata-mata ke Madinah. Mereka sempat mengelilingi kamp pasukan Muslim untuk membunuh salah satu dari mereka. Akan tetapi mereka berhasil ditangkap, namun kemudian mereka dibebaskan oleh Rasulullah SAW, dan dibiarkan kembali ke Makkah. Peristiwa ini terjadi menjelang Baiat Ridhwan.

Intel Madinah Ungkap Kekuatan Heraklius
Kala itu, tiga ribu pasukan Muslim sudah berada di Syam untuk melawan pasukan Heraklius. Pasukan Muslim berhasil memperoleh informasi bahwa kekuatan pasukan Romawi itu berjumlah 100 ribu orang dan mereka sudah berada di Mab, sebuah desa di Syam. Dengan bekal informasi itu, mereka hendak melaporkan kekuatan musuh ke Madinah, hingga Rasulullah SAW mengirim bantuan atau memerintahkan untuk tetap bertempur.
Tapi, Abdullah bin Rawahah selaku salah satu pemimpin terus memberi semangat agar mereka tetap bertempur, hingga pertempuran tidak dapat dielakkan. Peristiwa itu dikenal dengan Perang Mu’tah, yang terjadi pada bulan Jumadi Al Ula tahun ke-8 setelah hijrah.

Fathu Makkah, Intel Madinah Dahului Intel Quraish
Sebelum Rasulullah SAW keluar menuju Makkah, beliau telah memerintahkan para sahabatnya untuk mengirim mata-mata guna mencari tahu keadaan kaum kafir Quraish, sebagaimana diriwatkan oleh Imam At Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir.

Dengan demikian, tak heran kalau di wilayah Mur Adz Dzahran, tempat Rasulullah SAW dan 10 ribu pasukan beliau singgah, berita mengenai Quraish sudah diketahui sedangkan berita mengenai gerakan pasukan Rasulullah SAW tidak ada yang mengetahui, termasuk oleh penduduk desa tersebut.
Berbeda dengan gerakan intelijen Madinah, di waktu yang sama, beberapa lelaki Quraish seperti Sufyan bin Harb, Hakim bin Hizam, serta Badil bin Warqa’ baru keluar untuk berusaha mencari informasi mengenai gerakan pasukan Muslim.

Dengan demikian, penduduk Makkah sendiri tidak sempat menyusun kekuatan secara matang, hingga terjadilah peristiwa Fathu Al Makkah pada bulan Ramadhan tahun ke-9 setelah hijrah.

Intelijen dalam Perang Hunain
Setelah Kabilah Hauzan mendengar bahwa Makkah sudah dikuasai oleh kaum Muslimin, Malik bin Auf An Nashri, salah satu pemuka kabilah mengumpulkan para pemuka lainnya. Mereka sepakat melakukan penyerangan terhadap Rasulullah SAW dan kaum Muslimin. Seperti biasanya, sebelum berangkat mereka mengirim beberapa mata-mata. Akan tetapi, mata-mata itu gagal dan tercerai berai, karena berhadapan dengan seorang penunggang kuda yang tidak mereka kenal.

Sebaliknya, Rasulullah SAW telah mengirim Abdullah bin Abi Hadrad Al Aslami, untuk menyusup, dan bermukim di Hauzan. Selama tinggal di sana, beliau berhasil mendapatkan informasi yang berasal dari pembesar Hauzan, Malik bin Aufah An Nashri. Informasi itu menyangkut semua hal yang terjadi di sana, termasuk kesepakatan mereka untuk melakukan serangan kepada Rasulullah SAW.

Akhirnya, Rasulullah SAW memutuskan membawa 12 ribu pasukan menuju Hauzan. Sesampai di lembah Hunain, ternyata pasukan Musyrikin sudah menunggu terlebih dahulu, hingga berkecamuklah Perang Hunain pada tahun ke-8 setelah hijrah, pasca Fathu Makkah.

Karz bin Jabir, Ahli Pencari Jejak
Mencari jejak adalah keahlian Karz bin Jabir, hingga Rasulullah SAW memerintahkannya untuk mengejar beberapa orang pembunuh penggembala Rasulullah SAW yang bernama Yasar. Tidak memerlukan waktu lama, Karz bin Jabir bersama beberapa orang lainya berhasil membekuk para pelaku dan membawa mereka ke hadapan Rasulullah SAW. *Thoriq/Suara Hidayatullah NOPEMBER 2009

Penggunaan Sandi dalam Pertempuran
Seperti yang biasa berlaku dalam dunia intelijen dan militer modern, guna membedakan siapa kawan dan lawan, pasukan Muslim pada zaman Rasulullah SAW memiliki sandi khusus. Dalam berbagai peperangan berbagai macam sandi telah digunakan. Berikut ini sandi-sandi tersebut:

 Dalam pertempuran Khandaq dan Bani Quraidhah, pasukan Muslimin menggunakan sandi, “Haamiim, la yunsharun.” (Riwayat Abu Dawud), yang menurut salah satu penafsiran, bermakna bahwa Allah tidak bisa dikalahkan, karena Haamiim menurut penafsiran ini adalah salah satu dari nama Allah Ta’ala.

 Dalam pertempuran melawan Bani Malmuh, yang dilakukan malam hari, digunakan sandi, “Amit..amit.” (As Sirah An Nabawiyah, 4/472), yang maknanya, “bunuhlah...bunuhlah”.

 Sedangkan saat Fathu Makkah, perang Hunain dan Thaif sandi yang digunakan kaum Muhajirin adalah “Ya Bani Abdirrahman,” sedangkan sandi kabilah Khazraj adalah, “Ya, Bani Abdillah,” dan sandi kabilah Aus adalah “Ya Bani Ubaidillah.”

 Di kesempatan lain Rasulullah SAW saat melepas pasukan kecil yang dipimpin oleh Talhah, beliau bersabda, ”Sandi kalian Ya Ashr.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah). Ashr bermakna sepuluh, menggunakan sandi ini karena jumlah mereka sepuluh orang. *Thoriq/Suara Hidayatullah NOPEMBER 2009


Memeriksa Boleh, Memaksa Mengaku Dilarang

Dalam interogasi sering terjadi penyiksaan untuk mendapat pengakuan. Bolehkah itu dilakukan?

Hatib bin Abi Balta’ah termasuk golongan Muhajirin. Bahkan beliau adalah salah satu ahlu Badar, dan sudah tinggal di Madinah selama beberapa tahun bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW). Suatu kali ia merasa risau atas rencana Rasulullah SAW mengirim pasukan ke Makkah karena takut terjadi apa-apa atas keluarganya yang masih tinggal di sana.

Hatib kemudian punya inisiatif mengabarkan kepada para keluarganya mengenai rencana Rasulullah SAW itu secara diam-diam. Caranya, dengan menitipkan sebuah surat kepada salah satu wanita budak Bani Abdul Muthalib untuk disampaikan kepada keluarganya itu. Tentu, yang dilakukan Hatib bisa membocorkan rahasia rencana penyerangan ke Makkah. Dan di sini keselamatan ribuan pasukan Muslim menjadi taruhannya.
Rasulullah SAW menerima “kabar langit” tentang apa yang dilakukan Hatib. Beliau kemudian segera mengutus Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin Awwam, untuk mengejar wanita itu. Ternyata, wanita pembawa pesan itu sudah sampai di tempat persinggahan Al Khaliqah, yang berjarak 12 mil dari Madinah.

Setelah mendapatinya, kedua sahabat Rasulullah SAW tersebut meminta wanita itu turun dari kendaraan, dan memeriksa kendaraan yang ditungganginya. Akan tetapi mereka tidak menemui apa yang dicari. Mereka yakin bahwa yang dikatakan Rasulullah SAW pasti benar, hingga Ali bin Abi Thalib mengatakan, ”Tunjukkan tulisan itu! Atau kami akan memeriksamu!” Melihat keduanya tampak serius, wanita itu mengeluarkan tulisan yang diselipkan di sela-sela kain di kepalanya.

Setelah memperoleh bukti yang jelas, Rasulullah SAW memanggil Hatib bin Abi Balta’ah, guna mengatahui apa yang mendorongnya berbuat demikian. “Wahai Hatib, kenapa engkau melakukan hal ini?” Hatib menjawab, ”Wahai Rasulullah, demi Allah saya benar-benar orang yang beriman terhadap Allah dan Rasul-Nya. Saya tidak berubah dan menggantinya. Hanya saya tidak memiliki keluarga, sedangkan anak-anak saya berada dalam asuhan mereka (Quraish), maka saya melakukan itu untuk mereka.”

Saat itu, Umar bin Al Khaththab yang ikut serta bersama Rasulullah SAW kelihatan marah. ”Wahai Rasulullah,” kata Umar, “Izinkan saya untuk memenggal lehernya, sesungguhnya laki-laki ini telah melakukan nifaq.” Rasulullah SAW membalas perkataan Umar, ”Tidak tahukah engkau wahai Umar, bahwa Allah telah memperhatikan ahlu Badar, dan berfirman, ”Kerjakan semau kalian, Aku telah mengampuni kalian.” (As Sirah An Nabawiyah, 4/308).

Syaikh Said Ramadhan Al Buti menyebutkan dalam bukunya, Fiqh As Sirah, bahwa beberapa pihak berpendapat bolehnya menggunakan berbagai cara agar tersangka mengaku. Mereka mengambil argumen dari kisah Ali yang menghardik dan mengancam budak Bani Abdul Muthalib itu.

Ulama Syiria ini menjelaskan bahwa kisah di atas tidak bisa dijadikan argumen untuk menopang pendapat itu, karena beberapa sebab.

Pertama, budak tersebut posisinya tidak lagi sebagai tersangka belaka, melainkan pelaku hakiki yang informasinya berasal dari wahyu. Dan ini bersifat qath’i, lebih kuat daripada iqrar (pengakuan) si pelaku sendiri. Sehingga praktek penyiksaan tersangka agar yang bersangkutan mengaku tidak bisa diqiyaskan dengan kasus di atas, karena hanya didasari dengan prasangka dan perkiraan, yang berasal dari manusia biasa yang tidak maksum. Sehingga kisah di atas tidak bisa dijadikan dasar untuk melegalkan praktek penyiksaan guna mengorek pengakuan seorang yang statusnya masih tersangka.
Kedua, membuka baju untuk melakukan pemeriksaan tidak seperti penyiksaan dan penahanan, sehingga tidak pula bisa diqiyaskan. Yang pertama dibolehkan, yang kedua tidak dibolehkan.

Pengakuan karena Paksaan Tak Berlaku
Para ulama madzhab empat telah bersepakat bahwa pengakuan yang disebabkan paksaan tidak bisa dijadikan dasar untuk menjatuhkan hukuman. Berikut, pandapat mereka:

Madzhab Hanafi
Al Kasani menyebutkan, bahwa kerelaan adalah salah satu aspek yang menentukan bahwa sebuah pengakuan itu sah atau tidak. Dengan demikian, maka pengakuan orang yang dipaksa tidak sah. (Bada’i’ As Shana'i’, 7/224).

Madzhab Maliki
Qadhi Sahnun menyebutkan masalah hukum pihak yang mengaku setelah diancam, baik dengan diikat, dipenjara serta dipukul, tidak berlaku hadd. Imam Malik mengatakan, ”Tidak diberlakukan kepadanya hadd, kecuali ia mengakui hal itu dengan rasa aman dan tanpa rasa takut.” (Al Mudawwanah, 16/93).

Madzhab Syafi’i
Al Imrani mengatakan, ”Tidak diterima pengakuan orang yang dipaksa, Sabda Rasulullah SAW, ’dingkat (dimaafkan) untuk umatku kesalahan, lupa dan apa yang dipaksakan kepadanya.’ Dan karena orang yang dipaksa tidak masuk dalam golongkan mukallaf. (Al Bayan, 13/418).

Madzhab Hanbali
Ibnu Qudamah mengatakan, ”Kalau seorang laki-laki dipukul agar ia mengaku berzina, tidak wajib atasnya hadd, dan tidak bisa ditetapkan bahwa ia berzina. Saya tidak mengetahui para ulama khilaf, bahwa seorang yang dipaksa mengaku tidak wajib atasnya hadd.” (Al Mughni, 9/7181). Thoriq/Suara Hidayatullah NOPEMBER 2009

Email Autoresponder indonesia
author