Penyambung Sanad Ulama Nusantara

No comment 20 views
banner 160x600
banner 468x60

Memiliki puluhan karya yang diterbitkan di Timur Tengah, salah satunya adalah kitab fiqh yang tebalnya 7 jilid.

Miftah tergolong mahasiswa yang rajin mengunjungi perpustakaan milik Dr Rif’at Fauzi Abdul Muthallib di Kairo untuk membaca atau mencari referensi. Suatu kali ada hal yang membuat mahasiswa Al-Azhar jurusan Hadits ini terkesan, yakni ketika pemilik perpustakaan mengatakan kepadanya, ”Ini ada kitab tulisan orang Indonesia,” kata Rif’at seraya menyodorkan kitab karya Syaikh Mahfudz at-Tarmasi.

Rif’at dan Syaikh Mahfudz boleh dibilang satu guru. Mereka “bertemu” pada Imam ar- Ramli (1004 H) dalam periwayatan musnad Imam As Syafi’i, sedangkan periwayatan fiqh As-Syafi’iyah bertemu pada Syaikh Ahmad Khulaifi (1209 H). Mereka yang memiliki sanad dalam keilmuan, akan saling mengenal walau ada perbedaan masa dan tidak pernah bertemu secara fisik.

Namun, ada pula para penuntut ilmu syar’i mengenal atau minimal pernah mendengar nama Syaikh Mahfudz walau tidak memiliki periwayatan, karena banyak karya ulama dari Pacitan, Jawa Timur ini yang beredar dan diterbitkan di Timur Tengah. Kitab-kitab itu antara lain, Nail Al-Ma’mul Hasyiyah Ghayah Al-Wushul ala Lubb Al-Ushul (3 jilid) dan Is’af Al-Mathali’ bi Syarh Al-Badr Al-Lami’ Nadzmi Jam'i Al-Jawami’ (2 jilid), keduanya membahas masalah ushul fiqh.

Karya yang lain adalah Hasiyah Takmilah Al-Minhaj Al-Qawim (1 jilid) dan Mauhibah Dzil Al-Fadhl (7 jilid), keduanya juga membahas masalah fiqh. Lalu, Manhaj Dzawi An- Nadhar (1 jilid) yang membahas ilmu Hadits, Ghunyah At-Thalabah bi Syarh At- Thayyibah fi Al-Qaira’at Al-Asyrah (1 jilid), Kifayah Al-Mustafid li Ma Ala Asanid. Yang disebut terakhir berisi periwayatan Syaikh Mahfudz dalam semua disiplin ilmu dan lainnya.

Namun sayangnya, karya Syaikh Mahfudz yang masih berupa manuskrip sudah banyak yang hilang. Hal ini terjadi setelah Pesantren Tremas diterjang banjir bandang tahun 1966, sebagaimana dijelaskan oleh Kiai Luqman, pengasuh Pesantren Tremas saat ini. Kiai Achid at-Tirmidzi yang juga pengajar di pesantren yang sama menyebutkan bahwa manuskrip Hasiyah Takmilah Al-Minhaj Al-Qawim termasuk karya yang terselamatkan. Kini, kitab tersebut di simpan oleh Kiai Hariri, cucu Syaikh Mahfudz yang mengasuh Pesantren Tahfidz Usyaq Al-Qur`an di Demak.

Syaikh Mahfudz mengajar di Bab as-Shafa Masjid Al-Haram dan di rumahnya, hingga berhasil mencetak para ulama, baik yang berasal dari Nusantara, Arab dan India. Hal ini semakin meningkatkan populeritasnya. Beberapa dari ulama yang berguru kepada Syaikh Mahfudz adalah Muhaddits Syaikh Habibullah as-Syanqithi, Muhaddits Al- Harmain as-Syaikh Hamdan, Syaikh Ahmad al-Mukhalilati, Syaikh Umar bin Abi Bakr Ba Junaid al-Makki, dan Syaikh Muhammad Abdul Baqi al-Ayubi al-Laknawi.

Perjalanan Mencari Ilmu

Syaikh Yasin dalam Kifayah Al-Mustafid menerangkan bahwa pada awalnya Syaikh Mahfudz memperoleh ilmu dasar fiqh dan menghafal al-Qur`an dari beberapa ulama di Jawa. Kemudian ayahnya, Kiai Abdullah at-Tarmasi yang kala itu bermukim di Makkah memanggilnya untuk belajar pada tahun 1291 H. Kepada sang ayah, Syaikh Mahfudz mengkaji beberapa kitab. Ulama yang kelak bergelar muhaddits ini kembali ke Jawa dan berguru kepada Syaikh Shalih bin Umar as-Samarani (Semarang).

Namun setelah itu, Syaikh Mahfudz kembali untuk kedua kalinya ke Makkah dan mengambil berbagai disiplin ilmu dari para ulama besar. Di antara para guru Syaikh Mahfudz adalah Al-Allamah as-Sayyid Abi Bakr bin Muhammad Syatha al-Makki, yang merupakan pijakan Syaikh Mahfudz dalam periwayatan Hadits. Ia juga menyimak banyak kitab Hadits dan musthalah-nya dari Al-Allamah Muhaddits As-Sayyid Husain bin Muhammad al-Habsyi al-Makki yang dikenal sebagai “Ibnu Mufti” (anak Mufti). Ia juga banyak membaca kitab Hadits di hadapan Al-Allamah Syaikh as-Syafi’iyah Makkah Syaikh Muhammad Sa’id Ba Bashil. Ia juga memperoleh ilmu qira’at 14 dari Al- Allamah Syaikh Muhammad as-Syarbini ad-Dimyathi.

Dalam menuntut ilmu, ia benar-benar bermujahadah dengan terjaga di malam hari, hingga terlihat kelebihannya dalam Hadits, fiqh dan ushulnya, serta ilmu qira’at.

Bahkan dalam hal ilmu, Syaikh Mahfudz memiliki motivasi tidak ingin kalah dengan gurunya. Kiai Luqman menyebutkan, sudah menjadi tradisi bahwa murid mesti bisa mengungguli gurunya, ”Demikian pula Syaikh Mahfudz, kalau gurunya Syaikh Abu Bakr Syatha mampu menulis kitab fiqh I’anah At-Thalibin setebal 4 jilid, ia harus memiliki karya lebih besar, yakni dengan menulis Al-Mauhibah.”

Al-Mauhibah sendiri kini diterbitkan oleh salah satu penerbit di Arab Saudi menjadi 7 jilid dengan tebal mencapai 6000 halaman.

Kekhasan Karya Syaikh Mahfudz

Kiai Achid menilai bahwa kitab Al-Mauhibah memuat masalah-masalah yang tidak dijumpai dalam kitab para ulama Arab, yakni masalah-masalah yang terjadi di Nusantara, seperti hukum shaff wanita di samping shaff laki-laki, yang hanya ditemui di Indonesia. Masalah ini tidak dibahas dalam kitab fiqh pada umumnya, tapi dibahas oleh Syaikh Mahfudz. “Menurut beliau hal itu tidak membatalkan, hanya saja lebih utama wanita di belakang,” kata Kiai Achid.

Kelebihan keilmuan Syaikh Mahfudz juga nampak dari karyanya yang berjudul Minhaj Dzawi An-Nadzar, syarah Alfiyah Hadits karya Al-Hafidz as-Suyuthi. Disebut Alfiyah, karena jumlah baitnya mencapai seribu. Namun Syaikh Mahfudz meneliti jumlah sesungguhnya kurang dari angka tersebut, yakni hanya 980 bait, sehingga ia menambah 20 bait lagi untuk menutupi kekurangan itu. Dan hal ini bukanlah perkara mudah, ”Akal saya tidak nyampai, ada orang Jawa yang mampu membuat bait!” kata Kiai Luqman.

Dari sisi akhlak, Syaikh Yasin al-Fadani menyebutkan memberi kesaksian. Syaikh Mahfudz, menurut Syaikh Yasin, tidak pernah terlibat hal-hal yang tidak berguna. Datang dari Jawa ke Tanah Suci dengan perbekalan seadanya. Ia juga dikenal sebagai alim yang wara’. Rumahnya juga banyak didatangi para pencari ilmu, baik untuk sekadar mengucap salam maupun untuk mencari ilmu.

Kiai Achid juga mengisahkan mengenai ketawadhuan Syaikh Mahfudz, dimana ia menyebut saudara sekaligus muridnya sendiri, Syaikh Dimyathi dengan sebutan, ”Akhi wa ustadzi” (saudarku dan guruku). Demikian pula Syaikh Dimyathi menyebut Syaikh Mahfudz dengan sebutan yang sama.

Syaikh Mahfudz wafat di Makkah, 1 Rajab (sesaat sebelum azan Maghrib hari Ahad), malam Senin tahun 1336 H. Jenazahnya diantar banyak orang, dan dimakamkan di pemakaman keluarga Syatha, keluarga gurunya di Al-Ma’la, karena penghormatan keluarga ini terhadap Syaikh Mahfudz. Semoga Allah merahmati beliau. *Thoriq/Suara Hidayatullah

Email Autoresponder indonesia
author