Bisnis Bubur Bayi

No comment 43 views
banner 160x600
banner 468x60

FOTO: nandasms1.blogspot

Jualan Bubur Omzetnya Rp 150 Juta

Tak semata mencari untung, tapi membantu asupan gizi anak.

Jam masih menunjukan pukul 06.30 pagi, namun suasana di depan rumah Jalan Kayu Manis IV No. 11 Jakarta Pusat itu sudah ramai. Motor diparkir berjajar di luar pagar. Ibu-ibu yang kebanyakan menggendong bayi asyik mengantri. Ini adalah suasana pagi di depan rumah Mardiastuti, seorang penjual bubur bayi dengan omzet Rp 150 juta per bulan.

Ya, bubur Hajjah Dias, begitu ia biasa disapa, memang terkenal. Tak hanya di sekitar Jalan Kayu Manis, melainkan juga dikenal di 7 tempat lainnya, masing-masing di daerah Pisangan Baru (Jakarta Timur), Kranji (Bekasi), Cimanggis (Depok), Slipi (Jakarta Barat) dan Tangerang. Tempat-tempat itu adalah dapur dari bubur Hajjah Dias. Akhir Juli lalu, Dias membuka dapur baru di daerah Tambun, Bekasi. ”Jadi, total ada delapan dapur,” ujar Dias sumringah.

Berawal dari Rasa Kasihan

Sesungguhnya, awal berjualan bubur (2003) Dias tak semata mencari untung. Ia hanya ingin membantu. Pensiunan perawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta ini sering melihat ibu-ibu membeli bubur dari pedagang bubur keliling untuk bayi mereka. Padahal sepengetahuannya, bubur untuk orang dewasa tidak cocok jika diberikan kepada bayi, “Bubur untuk bayi itu disamping harus kaya gizi juga tidak boleh memakai penyedap,” ujar Dias. “Kalau pakai penyedap bisa merusak perkembangan otak mereka,” ia melanjutkan penjelasannya.

Dari situ terbetiklah keinginan untuk membantu para ibu menyediakan makanan bergizi bagi bayi mereka. Dengan uang Rp 8.000, Dias lalu membeli beras, lauk, dan sayuran untuk membuat bubur. Untuk alat masak, ia memakai yang sudah tersedia di dapur rumahnya. Dari bahan itu jadilah 20 porsi bubur bayi. Bubur itu kemudian dijual dengan harga Rp 1.000 per porsi kepada para tetangganya.

Hanya saja, langkah Dias itu ditentang suaminya. “Ya, gengsilah,” kata Kudjati Sutanto, sang suami. “Masak istri pensiunan Pertamina yang jabatannya sudah pembina jualan bubur. Saya bilang, ’Kamu nggak mikir nanti orang bilang apa?” Kudjati menjelaskan alasan penolakannya. Namun, setelah Dias menjelaskan bahwa niatnya itu tak semata-mata bisnis, tapi ingin membantu memperbaiki gizi bayi di lingkungan sekitarnya, akhirnya Kudjati mengizinkan. “Ya kalau nawaitu-nya ke situ oke-oke saja. Asal jangan pikirannya profit oriented,” ujar Kudjati. Setelah mengantongi izin dari suami, makin mantaplah langkah Dias berjualan bubur bayi.

Tak disangka, bubur bayinya diminati masyarakat sekitar rumahnya, ”Kata mereka, anak mereka pada doyan,” ujar nenek satu cucu ini. Berita mengenai bubur bayi Dias pun cepat tersebar dari mulut ke mulut. Hasilnya, para pelanggan makin bertambah tiap hari. Karena itu, Dias kemudian merekrut dua orang ibu untuk membantunya memasak bubur.

Selain itu, ia juga harus membeli panci dengan ukuran lebih besar untuk memasak lebih banyak bubur. ”Saya beli panci tiap minggu, sampai kata tetangga, ’beli panci melulu’,” ujarnya diiringi tawa. Menurut Dias, besarnya sambutan masyarakat karena memang belum pernah ada yang menjual bubur bayi sebelumnya. “Padahal, saya nggak pakai iklan, dari mulut ke mulut saja,” tukasnya.

Tahun 2005, karena melihat perkembangan usaha Dias maju salah seorang anaknya tertarik untuk ikut mengembangkannya. Sang anak lalu membuka dapur baru di daerah Jakarta Barat. Untuk mengelola dapur barunya itu, Dias melatih seorang saudaranya untuk dijadikan koki. Setelah itu, berturut-turut dibuka lima dapur lainnya, hingga sekarang ada 8 dapur.

Sementara itu untuk penjualan, selain dijual di dapur masing-masing, Dias juga menjual buburnya kepada cabang yang berjumlah 52 cabang. Kepada cabang-cabang itu Dias menjual buburnya seharga Rp 1.500 per porsi dengan sistem jual putus. Kemudian cabang-cabang itu diharuskan menjualnya seharga Rp 2.000. ”Tidak boleh lebih, biar sama,” Dias beralasan.

Dias mengaku keuntungannya dari satu porsi memang tidak banyak. ”Tapi karena setiap hari dan pelanggannya sudah tertentu, jadi alhamdulillah untungnya ada, bisa bayar koki dan karyawan,” ujarnya. Syarat membuka cabang mudah saja, tinggal menghubungi dapur terdekat.

Kini, total produksi dari ketujuh dapurnya sudah mencapai sekitar 2.500 porsi sehari. Jika dikalikan dengan harga jualnya Rp 2.000 per porsi berarti dalam sehari usaha bubur bayi Dias beromzet Rp 5.000.000, artinya dalam sebulan mencapai Rp 150 juta.

Untuk mempererat hubungan dengan para pengelola cabangnya, Dias mengadakan pertemuan setahun sekali. Dalam acara itu Dias mengadakan tanya jawab mengenai usaha buburnya. Selain itu, diberikan juga beberapa penghargaan kepada cabang yang dinilai memiliki prestasi. “Biar mereka termotivasi dan merasa dihargai,” ujar Dias.

Setelah sukses berjualan bubur bayi, Dias kini mencoba berjualan nasi tim. Walau baru dua bulan, namun pelanggannya sudah mencapai 40 orang. Untuk nasi tim, Dias menjualnya seharga Rp 5.000 per porsi. ”Itu sudah lengkap pakai lauk dan sayur,” kata ibu lima anak ini. Para pelanggannya bilang harga itu terlalu murah, namun Dias punya pertimbangan lain, ”Masak mau mahal-mahal, saya tak tega kalau ibu-ibu tak bisa beli. Kan tiap hari, jadi kalau agak mahal kasihan juga orangtuanya.” Pengembangan usahanya ini diakui Dias tidak melalui perencanaan. Sebab, pelanggannya sendiri yang meminta Dias menjual nasi tim. Menurutnya, karena setelah makan bubur pasti anak-anak makan nasi lembek.

Rahasia Sukses

Mengenai rahasia sukses usahanya, Dias mengaku tidak ada yang spesial. Ia hanya berusaha menjaga mutu bubur bayi buatannya. Karena itu, meski harga bahan buburnya sering turun naik tapi Dias tidak pernah mengurangi bahan. Selain itu, ia juga tidak mau menaikan harga. ”Biarlah keuntungan saya hilang dikit, tapi anak-anak tetap dapat gizi, tumbuh kembangnya baik.”

Dias sadar, pelanggannya kebanyakan adalah masyarakat berekonomi menengah ke bawah. ”Kalau harganya dinaikin kasihan orang tuanya,” ia berujar. Dias juga memakai plastik anti panas untuk membungkus buburnya. ”Sebab, kalau yang tidak tahan panas nanti kena panas terurai zat kimianya dan masuk ke bubur maka akan berakibat jelek sama anak-anak. Memang akibatnya tidak dirasakan langsung, tapi puluhan tahun kemudian,” ia menguraikan alasannya.

Selain itu, Dias juga rajin menjalin komunikasi dengan pelanggannya. Jika ada yang berkonsultasi mengenai masalah gizi dan perkembangan anak, dengan senang hati Dias layani. Dorongan keluarga juga menjadi rahasia suksesnya yang lain. Yang tak kalah penting Dias menjalankan usahanya ini dengan hati gembira. ”Senang saya bergaul sama masyarakat, sama anak kecil yang lugu, senyumnya nggak dibuat-buat, itu hiburan buat saya,” ujar nenek 64 tahun ini.

Dias juga tak lupa berbagi. Ia kini memberikan bubur secara gratis kepada dua bayi yatim di sekitar rumahnya. “Dari mulai makan bubur sampai berhenti makan bubur nanti, saya kasih gratis,” ujarnya. Dias juga rajin memberikan bantuan kepada korban bencana alam, bentuknya adalah pemberian bubur bayi bagi bayi korban bencana. Selain itu, ia juga tak lupa mengeluarkan sedekah dari hasil usahanya. Biasanya ia salurkan melalui masjid dan panti asuhan. *Dwi Budiman/Suara Hidayatullah september 2009

Email Autoresponder indonesia
author