Bisnis sayuran & buah-buahan Untung Melimpah Berkat Sedekah

banner 160x600

FOTO: DOK SAHID

Bermula dari penjual jamur di pasar, kini ia menjadi pemasok sayur di sejumlah supermarket besar. Omzetnya Rp 6 miliar setahun. Adakah hubungan antara rajin ibadah dan kesuksesannya?

Tahun 1996, di suatu hari. Muhammad Maulud menenteng sebuah kantong plastik berisi 3 kg jamur merang. Tanpa malu, jamur tersebut ditawarkan ke para pedagang. “Tolong, beli jamur ini. Dari saya harganya Rp 4 ribu. Terserah bapak mau menjualnya berapa,” ujar Maulud. Tak begitu lama, jamur tersebut pun habis dibeli pedagang.
Dari penjualan tersebut, pria asal Lawang, Malang ini meraup laba Rp 3 ribu. Sedikit memang. Apalagi uang selebihnya dikembalikan pada pemilik jamur. Kendati begitu, Maulud rela melakoni hal tersebut selama tiga pekan. “Mau gimana lagi Mas. Daripada nggak ada kerjaan, lebih baik ya jualan jamur,” katanya.

Tak pelak, usaha Ilud, panggilan akrab Maulud, sempat mengundang cibiran tetangganya. Apalagi Ilud seorang sarjana pertanian. Hingga suatu ketika ada tetangganya bilang, “Sarjana kok jualan jamur. Masa tak malu.” Tapi, cemoohan itu tidak dihiraukannya.

Seiring perjalanan waktu, langganan jamur Ilud kian banyak. Hingga suatu ketika, ada seorang pedagang yang meminta jamurnya. Karena tidak ada stok, Ilud pun mencari ke Sidoarjo meski hanya bermodal uang Rp 15 ribu. Dengan uang sebesar itu, dia hanya bisa membeli 5 kg jamur merang. Ilud pun merasa rugi karena sudah jauh-jauh datang tetapi jamur yang didapat hanya sedikit saja. Lantas, dia pun memutar otak. Akhirnya, dia bisa membawa 20 kg jamur asal meninggalkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebagai alat jaminan.

Sejak itu, pesanan jamur Ilud kian banyak. Melihat potensi tersebut, tiba-tiba ide kreatif Ilud muncul. Jika ditambah jenis barang lain, kata Ilud, akan lebih untung. Akhirnya, dengan uang Rp 100 ribu hasil jualan jamur merang, Ilud mencari barang lain. Pilihannya jatuh pada jagung manis. Dari situ, Ilud mulai memasok jagung ke para pedagang di pasar dan sejumlah pedagang lain.

Waktu terus berputar. Sekitar tujuh bulan kemudian, alumnus Universitas Islam Malang (Unisma) tahun 1990 ini sudah bisa nyicil motor baru. Setiap hari, motor tersebut dipakai membawa sayuran dan buah-buahan. Sayang, karena barangnya terus bertambah maka tidak bisa mengangkut semua pesanan.

Lima bulan kemudian, Ilud memberanikan diri mengambil kredit mobil. Karena masih butuh dana Rp 2 juta untuk uang muka, maka terpaksa motor barunya digadaikan. Kontan, Wiwik Wahyuwulandari, istrinya, khawatir atas keputusan tersebut. “Kok Bapak berani kredit dua kendaraan sekaligus?” ujar Ilud mengenang kalimat istrinya itu. “Berani saja. Allah Maha Kaya. Kita harus nekat,” jawab Ilud optimis.

Keputusan Ilud ada benarnya. Dengan mobil baru tersebut, Ilud mampu memperluas segmentasi pasarnya. Tidak saja para pedagang di pasar, tapi mulai merambah ke toko-toko besar dan hotel. Bahkan, barang dagangannya pun semakin variatif. Tidak hanya jamur dan jagung manis, tapi jenis sayuran lain serta puluhan jenis buah. Total, ada sekitar 200 jenis. Dengan begitu, Ilud termasuk pemasok sayur dan buah terkomplit.

Hingga suatu saat, ada seorang petugas Hero Supermarket menawarinya menjadi pemasok di tempatnya. Betul, akhirnya Ilud dipercaya sebagai pemasok untuk Hero Supermarket dan juga Giant Supermarket.

Yakin Janji Allah
Usaha Ilud terus menunjukkan kemajuan. Empat tahun kemudian, Ilud sudah mampu menunaikan ibadah haji bersama ibunya. Padahal, omzet usaha waktu itu belum begitu besar. Kendati demikian, karena demi memenuhi panggilan Allah, maka dia rela lakukan. Ia sangat yakin dengan janji Allah. “Barangsiapa yang berangkat haji karena Allah, maka akan diganti oleh-Nya dengan berlipat.” Di Makkah, janji tersebut betul-betul diresapinya. “Masa sih Allah mau berbohong,” ujarnya.
Benar saja, sepulang dari ibadah haji, tiba-tiba direktur Matahari Supermarket datang ke rumahnya. Dia meminta agar Ilud mau menjadi pemasok di tempatnya. Ilud pun menyanggupinya.

Pangsa pasar Ilud pun semakin luas. Bukan saja Malang dan sekitarnya, tapi sudah memasok ke daerah-daerah di Jawa. Bahkan, hingga ke Indonesia bagian timur. Seperti Bali, Banjarmasin, Makassar, Menado, Balikpapan, dan Lombok. Jumlah pengirimannya tergantung pesanan. Paling sedikit satu mobil. Untuk daerah di luar Jawa, pengirimannya menggunakan pesawat.

Lalu, berapa omzetnya? Ternyata, sebagai pemasok Hero dan Giant saja cukup menggiuarkan. Belum ditambah dengan omzet usaha dari penyuplaian barang ke Matahari. Selain itu, Ilud juga memiliki swalayan Indofresh, yang per harinya beromzet sekitar Rp 10 juta. “Total semuanya kurang tahu. Tapi yang jelas, dari Hero dan Giant bisa mencapai 6 miliar rupiah per tahun,” tuturnya.

Kiat Usaha
Agar tidak kalah dengan pesaingnya, Ilud memiliki sejumlah kiat. Di antaranya kualitas barang terjaga, stabilitas harga, menyenangkan konsumen, ketepatan waktu, dan kekomplitan barang. “Jika hal itu tidak dilakukan, bisa jadi kita ditinggal pelanggan,” tegasnya.

Semakin lama naluri bisnis Ilud semakin terasah. Ia cukup kreatif. Selain menjadi pemasok, ia juga mendirikan swalayan Indofresh. Karena memiliki banyak ladang usaha, kini Ilud memiliki sekitar 56 karyawan tetap, 40 karyawan suplai barang, dan 16 karyawan Indofresh.

Untuk mengatur usaha dan karyawannya, Ilud mempunyai kiat tersendiri. Terlebih untuk karyawan yang bertugas mengantar barang. Sebab, bidang ini paling riskan; sering kecelakaan, dan kecurian. Karena itu, Ilud mewajibkan setiap karyawannya shalat lima waktu. Tidak hanya itu, di lingkungan kerja, karyawan tidak boleh merokok. Menurutnya, ada korelasi antara orang rajin ibadah dengan ketenangan dalam bekerja.

Kata Ilud, pernah beberapa kali karyawaannya celaka. Namun, setelah diwajibkan shalat dan diberi nasihat, kejadian tersebut jarang terjadi lagi.

Peraturan tersebut juga direspon baik para karyawan. Suyono contohnya. Karyawan asal Banyuwangi ini merasakan nikmatnya kerja dengan kewajiban shalat lima waktu. “Enak Mas, lebih tenang dan nyaman. Sudah dapat kerja, diajak masuk surga pula,” katanya.

Untuk memotivasi para karyawan, setiap yang berprestasi dan tidak melanggar diberi hadiah uang Rp 75 ribu per bulan.

Tidak Lupa Allah
Ayah dari tiga anak ini berasal dari keluarga sederhana. Orangtua Ilud hanya sopir andong dan pedagang kecil-kecilan. Tak pelak, Ilud harus bekerja keras membantu keluarga.

Ketika di bangku kuliah, ia sudah kerja serabutan. Selepas kuliah ia sempat bekerja di bidang pengelolaan tanaman. Tapi, selalu gagal. Penyebabnya ditipu orang. Kendati begitu, ia tetap berperasangka baik pada Allah. “Di setiap kegagalan, ada rencana Allah yang terindah bagi saya,” ujar pria kelahiran 3 Januari 1966 ini.
Hal yang menarik dari Ilud adalah keistikamahan. Dulu, ketika tidak mampu, ia selalu rajin ibadah; puasa Senin-Kamis, shalat Dhuha, shalat Tahajud. Kini, setelah sukses, ibadah tersebut masih dikerjakan.

Sebagai ungkapan syukur kepada Allah, Ilud pun senantiasa bersedekah. Setiap bulan, ia mengeluarkan uang Rp 10 juta untuk membantu para janda dan anak yatim piatu di sekitarnya. Selain itu, setiap sore, di rumahnya menyediakan tempat mengaji anak-anak. Ada sekitar 150 santri. Biaya operasional dan guru ditanggung Ilud. *Syaiful Anshor/Suara Hidayatullah MEI 2010

Email Autoresponder indonesia
author