Alih Kepimpinan Ala Khulafa’ Ar Rasyidin

No comment 15 views
banner 160x600

FOTO: independen.wordpress

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) tak pernah menjelaskan secara rinci tata cara mengangkat seorang pemimpin. Namun, para khalifah setelah beliau, khususnya Khulafa` ar-Rasyidin, telah berijtihad untuk memperoleh format terbaik memilih dan mengangkat pemimpin.

Kita perlu meneladani tata cara mereka mengganti seorang pemimpin. Sebab, kata Rasulullah SAW, mereka adalah generasi terbaik. Bahkan, Rasulullah SAW juga memerintahkan umatnya agar mengikuti sunnah para khalifah tersebut.

Nah, dalam Ihwal edisi ini, kami suguhkan paparan sejarah mengenai proses pergantian khalifah yang terjadi di masa Khulafa` Ar Rasyidin dan bagaimana para ulama memetik pelajaran dari proses itu.
Dengan demikian, mudah-mudahan, kita bisa memahami dan mengambil pelajaran. Selamat menikmati. *Thoriq/Suara HidayatullaH MEI 2009

“Konferensi Politik” di Saqifah

Kaum Anshar dan Muhajirin berdebat soal pengganti Rasulullah.

Wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) tidak hanya menyisakan duka yang mendalam buat umat Islam, namun juga kehilangan sosok pemimpin yang bisa diterima seluruh kalangan. Apalagi, pengaruh Madinah saat itu sudah demikian meluas. Tak heran, umat Islam harus melalui proses yang ”berat” untuk menentukan siapa pengganti sosok yang sempurna itu.

Sebelum jenazah Rasulullah SAW dikebumikan, kaum Anshar sudah mengadakan pertemuan di Saqifah Banu Sa’idah. Tanpa diketahui pihak Muhajirin, mereka membahas siapa yang hendak menggantikan posisi Rasulullah SAW sebagai pemimpin.

Hal ini bisa dimaklumi karena beberapa kali kaum Anshar merasa ”ditinggalkan”. Salah satu contoh, ketika Rasulullah SAW memberikan ghanimah (harta rampasan) perang Hunain lebih banyak kepada para ”muallaf” Makkah daripada kaum Anshar. Ini membuat kaum Anshar “marah” karena cemburu.

Untunglah, perasaan cemburu itu hilang setelah Rasulullah SAW memberi nasihat. Kata beliau, sengaja ini dilakukan karena iman kaum Anshar lebih kokoh daripada muallaf Makkah.

”Wahai saudara-saudara Anshar, tidakkah kalian rela jika orang-orang itu pulang membawa kambing dan onta sedangkan kalian pulang membawa Rasulullah ke tempat kalian?” Ucapan Rasulullah SAW itu membuat kaum Anshar merasa terharu.

Namun, setelah Rasul wafat, kaum Anshar tidak ingin perlakuan yang bisa membuat cemburu itu terulang. Mereka pun berkumpul. Begitu pentingnya pertemuan itu hingga Sa’ad bin Ubadah, pemimpin kaum Khazraj yang saat itu sedang sakit, diminta hadir.

Dalam pertemuan itu, Sa’ad berpidato di hadapan kaum Anshar. Dia bilang, merekalah yang lebih mulia dibanding Muhajirin karena merekalah yang melindungi Rasulullah SAW selama sepuluh tahun di saat kaum Muhajirin tidak mampu berbuat apa-apa.

Mereka yang hadir pun sependapat dengan Sa’ad. Mereka mengatakan, ”Kami serahkan persoalan ini ke tanganmu. Demi kepentingan kaum Muslim, engkaulah pemimpin kami.”
Namun, pernyataan itu belum final, sehingga bai’at terhadap Sa’ad belum dilakukan.
Sebenarnya, di pihak Anshar sendiri masih ada perselisihan antara kabilah Aus dan Khazraj. Dan, Sa’ad adalah orang yang dicalonkan oleh Khazraj.

Sebelum mereka memeluk Islam, terjadi persaingan keras antara dua kabilah ini. Namun, setelah Islam datang, perseteruan itu sirna, berganti dengan ukhuwwah. Kali ini, semangat persaingan itu muncul kembali.

Datangi Saqifah

Abu Bakar, Umar, serta Abu Ubaidah segera pergi menuju Saqifah setelah mendengar kabar bahwa kaum Anshar telah memperbincangkan masalah kepemimpinan.
Begitu datang, Umar berinisiatif hendak berbicara. Namun, Abu Bakar menahannya. Beliau memahami sifat Umar yang keras.

”Sabarlah! Aku yang akan berbicara. Sesudah itu silakan engkau berbicara sesukamu,” kata Abu Bakar.
Abu Bakar kemudian berpidato. Beliau menjelaskan kelebihan kaum Muhajirin. Merekalah yang lebih dahulu beriman dan berjuang bersama Rasulullah SAW. Mereka pula yang menanggung penderitaan karena membelanya, dan mereka termasuk kerabat dan para sahabatnya, sehingga merekalah yang berhak memegang kepemimpinan.

Tapi, di sisi lain, Abu Bakar juga menyebutkan kelebihan Anshar. Mereka telah membela kaum Muhajirin bersama Rasulullah SAW, hingga jika Muhajirin memimpin maka Anshar pun diikut sertakan. ”Kami amir dan tuan-tuan adalah wazir.”

Perkataan Abu Bakar mampu membuat situasi lebih tenang. Mereka pikir, terpilihnya Muhajirin membuat persaingan antara kaum Aus dan Khazraj melemah.
Akan tetapi, semangat mempertahankan Anshar masih ada. Mereka kukuh berpendapat, kaum Anshar lah yang berhak memimpin.

Abu Bakar mengulangi pernyataan sebelumnya: Muhajirin amir dan Anshar wazir.

Keadaan kembali memanas setelah Al Hubaib bin al-Munzir bin al-Jamuh mengajak Anshar untuk mempertahankan posisi. Umar, yang sebelumnya menahan diri untuk tidak berbicara, kini ikut berdiri dan berbicara, ”Orang-orang Arab tidak akan mengangkat kalian, jika nabinya bukan dari kalian!” Tak terelakkan, suasana di Saqifah menjadi tegang.

Al Hubaib kemudian berdebat sengit dengan Umar. Hingga Abu Ubaidah yang semula diam, angkat berbicara, ”Wahai saudara-saudara Anshar, kalian adalah pihak yang pertama memberikan bantuan, janganlah menjadi pihak pertama yang mengadakan perombakan.”

Basyir bin Sa’ad, salah satu pemimpin Khazraj, menyambut pernyataan Abu Ubaidah. Dia menyatakan, kaum Anshar tidak memiliki tujuan duniawi, juga tidak berhak untuk menyombongkan diri, sehingga hendaknya mereka jangan bertengkar dengan Muhajirin, karena mereka yang lebih berhak menjadi pemimpin.

Kata-kata Basyir membuat suasana Saqifah tenang kembali. Melihat situasi yang mendukung, Abu Bakar langsung mempersilakan para hadirin untuk memilih Umar bin Al Khattab atau Abu Ubaidah. Majelis kembali gaduh, hingga Umar berinisiatif untuk balik menawarkan bai’at kepada Abu Bakar Ash Siddiq.
Dengan suaranya yang lantang, Umar berkata, ”Abu Bakar! Bentangkan tanganmu! Bukankah Nabi menyuruhmu memimpin kaum Muslimin melaksanakan shalat? Engkaulah penggantinya. Kami akan mengikrarkan orang yang paling disukai Rasulullah SAW di antara kita semua.”

Tidak lama kemudian, Abu Ubaidah mengikuti langkah Umar, lalu disusul Basyir bin Sa’ad dari kaum Anshar. Kabilah Aus dan Khazraj juga ikut melakukan bai’at. Ruang Saqifah akhirnya menjadi sesak oleh manusia.
Selanjutnya, seluruh umat Islam membaiat beliau, tidak terkecuali Ali bin Abi Thalib. *Thoriq/Suara Hidayatullah MEI 2009

Boks:
Umat Memilih, Syariat Pedomannya

Para ulama menilai, Abu Bakar dipilih oleh ahlu syura atau ahlu al halli wa al aqdi, yakni para tokoh yang menjadi wakil umat, yang berkumpul di Saqifah.

Karena itulah, mereka berkesimpulan, umat lah sesungguhnya yang mentukan siapa pemimpin. Sebab, ahlu al halli wa al aqdi adalah wakil umat. Sama persis yang dikatakan Khatib Al Baghdadi bahwa penetapan khalifah harus berdasarkan pilihan umat.

Bahkan, Ibnu Taimiyyah berpendapat bahwa kalau seandainya Umar dan beberapa kelompok saja yang membaiat Abu Bakar, sedangkan seluruh sahabat lain menolak, maka Abu Bakar tidak bisa menjadi khalifah. Beliau bisa menjadi khalifah setelah mayoritas sahabat melakukan baiat untuknya.

Tentu, hal ini berbeda dengan ideologi demokrasi, bahwa kekuasaan mutlak di tangan rakyat, dan kehendak rakyat berada di atas segalanya.

Dalam Islam tidak seperti itu. Dalam Islam, ”kehendak syariat” harus didahulukan. Adapun pemilihan pemimpin oleh umat adalah salah satu bentuk taklif (pembebanan) syariat kepada umat dan pemerintah untuk menjalankan salah satu perintah, yakni pemilihan pemimpin. Tapi itu bukan pemberian kekuasaan mutlak kepada rakyat.

Dari argumen Abu Bakar dan Umar, bahwa Muhajirinlah (Quraish) yang berhak memimpin, para ulama seperti Al Mawardi berpendapat bahwa pemimpin harus dari kaum Quraish

Akan tetapi, menurut para ulama kontemporer, seperti Dr Wahbah Az Zuhaili (pakar fikih dari Syiria) syarat ini bukan syarat yang disepakati ulama. Sebagaimana Dr Dziya’ Ar Rais (ahli politik Islam) menyebutkan bahwa syarat ini bukan syarat pokok. Yang penting, khalifah dipilih dengan cara yang syar’i. *Thoriq/Suara Hidayatullah MEI 2009
Boleh Dipilih, Boleh Ditunjuk

Selain dipilih syura, calon khalifah juga bisa ditunjuk sendiri oleh khalifah sebelumnya.

Peristiwa perdebatan di Saqifah sangat melekat dalam pikiran Abu Bakar. Lebih-lebih setelah beliau jatuh sakit. Itulah yang melatarbelakangi ide untuk menunjuk penggantinya. Sebab, jika sewaktu-waktu beliau meninggal, dan belum ada kejelasan siapa penggantinya, ditakutkan kejadian yang lebih buruk dari peristiwa di Saqifah meletus.

Pagi itu, Abu Bakar memanggil Abdurrrahman bin Auf untuk meminta pendapat mengenai Umar. Abdurrahman menilai, Umar adalah orang terbaik, tapi sifat Umar yang keras membuatnya sangsi.
Abu Bakar menjelaskan, kekerasan Umar timbul karena merespon sikap dirinya yang terlalu lembut. ”Kalau saya menyerahkan masalah ini ke tangannya, tentu banyak sifatnya yang akan ditinggalkan,” jelasnya.
Tidak hanya mencukupkan diri dengan pendapat Abdurrahman, Abu Bakar juga memanggil Utsman. ”Isi hatinya lebih baik dari zahirnya, tak ada orang seperti dia di kalangan kita,” jawab Usman.

Abu Bakar juga berdiskusi dengan Sa’id bin Zaid dan Usaid bin Hudair serta beberapa sahabat kalangan Muhajirin dan Anshar. Beliau ingin agar mereka semua sepakat dengan usulan pencalonan Umar sebagai khalifah.

Akan tetapi, tidak seperti yang diharapkan, beberapa pihak merasa keberatan. Dengan meminta izin terlebih dahulu, mereka mendatangi Abu Bakar Ash Siddiq yang terbaring di tempat tidurnya.

Thalhah bin Ubaidillah yang bertugas sebagai juru bicara mengatakan. ”Apa yang hendak engkau katakan kepada Allah jika engkau ditanya mengenai keputusan untuk memilih Umar sebagai pengganti?” Intinya, mereka merasa keberatan, karena sifat keras Umar.

Abu Bakar merasa keberatan dengan kata-kata Thalhah itu. Beliau kemudian memanggil keluarganya dan minta untuk didudukkan. ”Untuk urusan Allah kalian mengancam saya? Demi Allah, saya telah menunjuk pengganti saya yang akan memimpin kalian, dialah yang terbaik di antara kalian!” Abu Bakar menjawab kata-kata Thalhah.

Tidak cukup meminta pendapat kepada para tokoh di kalangan kaum Muslimin, Abu Bakar juga meminta pendapat orang-orang yang berada di masjid kala itu. ”Saya sudah berijtihad untuk menentukan siapa pengganti saya, setujuhkah kalian?” ucap Abu Bakar dari kamar tempat beliau beristirahat. Mereka yang berada di dalam masjid pun menyetujui usulan beliau.

Pada Senin, setelah mata hari terbenam di bulan Jumadil Akhir tahun 13 Hijriyah, Abu Bakar wafat. Alhamdulillah, tidak ada perselisihan karena kaum Muslimin sudah mengetahui bahwa Umarlah yang bakal diangkat menjadi khalifah.

Keesokan harinya, seluruh umat Islam membaiat beliau. *Thoriq/Suara Hidayatullah MEI 2009

Box
Tak Bisa Diwariskan

Kesimpulan para ulama, bahwa pemimpin, disamping ditunjuk oleh ahlu al halli wa al aqdi, bisa juga ditunjuk oleh imam sebelumnya, sebagaimana dilakukan Abu Bakar. Walau demikian, bukan berarti khalifah bisa menunjuk sembarang orang, karena syarat-syaratnya harus juga dipenuhi oleh calon penggantinya.
Penunjukan bisa langsung kepada yang bersangkutan atau hanya disebutkan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh calon pengganti, baik dari kerabat dekat maupun bukan.

Cuma, apakah cukup dengan keputusan khalifah atau harus ada persetujuan dari ahlu al halli wa al aqdi?

Para ulama masih berbeda pendapat.

Imam Al Mawardi, yang sering menjadi rujukan ulama saat ini, memandang keputusan khalifah saja sudah cukup. Tak perlu ada persetujuan atau kerelaan anggota syura. Sebab, penunjukan Umar tidak tergantung pada persetujuan para sahabat.

Namun, para ulama Bashrah mensyaratkan adanya persetujuan anggota syura. Pendapat inilah yang dipilih oleh Dr Wahbah Az Zuhaili. Alasannya, pemilihan khalifah dan anggota syura telah mewakili keridhaan umat. Dan, dalam kenyataanya, ba’iat atas Umar juga mendapat persetujuan umat Islam.

Walau khalifah boleh menunjuk kerabat dan keluarganya, tidak berarti jabatan khalifah boleh diwariskan. Sebab, tidak otomatis anggota keluarga atau kerabat mendapatkan hak untuk menduduki tampuk kepemimpinan.

Ini disebabkan, calon harus ditunjuk terlebih dahulu oleh khalifah, lalu memenuhi syarat, serta mendapat persetujuan dari ahli syura. Begitulah pendapat para ulama Bashrah.

Ibnu Khaldun sendiri menjelaskan bahwa pewarisan tahta bukan termasuk tujuan Islam. Ibnu Hazm juga berpendapat sama, pewarisan tahta itu dilarang. *Thoriq/Suara Hidayatullah MEI 2009


Bisa Juga Diwakilkan Majelis Syura

Khalifah bisa langsung menunjuk penggantinya, bisa juga mewakilkan kepada mejelis syura

Pengangkatan Usman bin Affan

Setelah Umar bin Khattab ditikam oleh Abu Lu’lu’ah, umat Islam merasa cemas dan khawatir jika sewaktu-waktu Umar meninggal. Siapa kelak yang akan menggantikan kedudukannya? Itulah yang menyebabkan beberapa sahabat mengusulkan kepadanya agar menunjuk pengganti, seperti yang dilakukan Abu Bakar sebelum beliau wafat.

Akan tetapi Umar masih ragu, ”Kalau saya tidak menunjuk pengganti, itu disebabkan karena orang yang lebih baik dari saya sebelumnya tidak menunjuk pengganti. Kalau saya menunjuk pengganti, itu disebabkan orang yang lebih baik dari saya sebelumnya menunjuk pengganti,” Jawab beliau kepada para pengusul.
Namun, setelah berfikir kembali, Umar merasa perlu untuk melakukan sesuatu, hingga kelak kalau dirinya tiba-tiba dipanggil Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT), keadaan tidak kacau. Apalagi, kekuasaan kekhalifahan sudah semakin meluas. Jika terjadi kekacauan akibat kekosongan kepemimpinanan yang terlalau lama, tentu lebih susah untuk mengatasinya.

Sahabat yang bergelar Al Faruq itu akhirnya membentuk majelis syura yang beranggotakan 6 orang. Tugas majelis ini memilih salah satu di antara mereka sebagai khalifah.

Keenam orang tersebut adalah Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqqas.
Tidak lupa Umar menunjuk Abu Thalhah Al Anshari bersama 50 orang Anshar untuk mengamankan proses musyawarah itu. Dalam waktu 3 hari, pertemuan itu diharapkan sudah membuahkan hasil.

Musyawarah berjalan cukup alot dan sengit hingga memakan waktu dua hari. Di tengah proses pengambilan keputusan, tanpa diduga Abdurrahman bin Auf menarik diri dari pencalonan. Selanjutnya, semua anggota diminta untuk memilih tiga nominator saja yang berhak menjadi khalifah.

Akhirnya, Zubair memberi kuasa kepada Ali, Sa’ad memberi kuasa kepada Abdurrahman, sedangkan Thalhah memberi kuasa kepada Utsman. Karena Abdurrahman tidak ikut serta dalam pencalonan, maka calon yang tersisa hanya tinggal Ali dan Utsman.

Meski tak ikut pencalonan, Abdurrahaman bin Auf tidak berhenti memikirkan siapa sesungguhnya yang layak menjadi khalifah. Abdurrahaman mengajak kaum Muslim Madinah, juga mereka yang tinggal di wilayah daulah Islam, bertukar pikiran mengenai hal itu.

Setelah diskusi panjang, di tengah malam Abdurrahman mendatangi rumah Miswar bin Makramah. Beliau minta dipanggilkan Utsman dan Ali. Kepada keduanya, beliau meminta agar keduanya berjanji, barang siapa kelak terpilih, ia harus berlaku adil, dan yang tidak terpilih, ia harus tetap taat.

Akhirnya, saat azan fajar berkumandang, Abdurrahman, Utsman, dan Ali, bersama-sama menuju masjid. Di saat masjid penuh sesak, Abdurrahman naik ke atas mimbar dan menyatakan bahwa sudah saatnya seluruh umat Islam mengetahui siapa pemimpin mereka kini.

Akhirnya, Abdrurrahman membaiat Utsman, ”Saya sudah melepaskan beban yang dipikulkan di bahu saya dan saya letakkan di bahu Utsman!”

Tak lama kemudian, mereka yang hadir beramai-ramai membaiat Utsman. Tidak terlihat di antara mereka menentang atas hal yang telah diputuskan oleh Abdurrahman bin Auf itu.

Pengangkatan Ali bin Abi Thalib

Pemilihan Utsman sebagai khalifah berbeda dengan pemilihan Ali. Sebab, belum sempat menunjuk pengganti atau membentuk ahli syura, Utsman sudah dibunuh. Sehingga, selama lima hari, umat Islam tidak memiliki pemimpin.

Walau demikian, proses pembaiatan khalifah tidak memakan waktu yang panjang dan tidak terlalu sulit sebagaimana yang terjadi di masa-masa pengangkatan para khalifah sebelumnya. Pasalnya, saat itu semua mata tertuju kepada Ali bin Abi Thalib.

Namun, para sahabat seperti Sa’ad bin Abi Waqqas, Muhammad bin Maslamah, Usamah bin Zaid, Hassan bin Tsabit dan Abdullah bin Umar, belum bersedia membai’at. Bukan tidak setuju, cuma mereka menunggu umat Islam yang lain melakukan bai’at.

Ali pun demikian, beliau berkali-kali didesak agar bersedia dibai’at menjadi khalifah. Karena jabatan bukanlah sesuatu yang dicari, beliau selalu menolak.

Namun desakan kaum Muslimin kepadanya semakin kuat, hingga akhirnya beliau menerima.
Apa yang dilakukan kaum Muslimin pada saat itu untuk mendesak pembai’atan Ali amat masuk akal, karena umat Islam tidak boleh berlama-lama tanpa pemimpin.

Akhirnya, para pembesar Muhajirin dan Anshar membaiat Ali, baik yang berada di Madinah, Mesir, ataupun dibeberapa wilayah lain, kecuali Syam, yang berada di bawah kekuasaan Muawiyah bin Abi Sufyan. *Thoriq/Suara Hidayatullah MEI 2009

Box
Penunjukan Bisa Diwakilkan

Imam Al Mawardi menilai, apa yang dilakukan Umar bin Khattab sebenarnya sama dengan apa yang telah dilakukan Abu Bakar, yakni sama-sama menunjuk pengganti. Bedanya, Abu Bakar langsung menunjuk Umar sabagai pengganti, sedangkan Umar mewakilkan penunjukan itu kapada syura.

Dari fakta sejarah di atas bisa disimpulkan, peran ahli syura tidak hanya mencalonkan, mereka juga bertugas untuk mencari calon pemimpin yang lebih memenuhi syarat dan paling mudah untuk ditaati oleh umat.

Sedangkan peristiwa pengangkatan Ali bin Abi Thalib, hampir sama dengan pengangkatan Abu Bakar, yakni melalui proses pengangkatan pemimpin tanpa ada penunjukan dari khalifah sebelumnya.

Dari sejarah pengangkatan 4 khalifah di atas, Dr. Wahbah Az Zuhaili menyimpulkan, keridhaan umat benar-benar menjadi persyaratan yang amat penting terhadap keabsahaan sesorang untuk menjadi pemimpin. Mereka bisa benar-benar menjadi imam setelah mayoritas umat melakukan baiat.

Akan tetapi, di luar cara-cara di atas (penunjukkan imam dan bai’at ahlu syura) ada cara ke tiga yang diakui oleh fuqaha keempat mazhab, yakni khalifah bisa muncul melalui penaklukkan, jika si penakluk memenuhi syarat. Tapi, jika syarat-syarat sebagai khalifah tidak terpenuhi, maka tidak boleh tergesa-gesa memberontak, karena hal itu bisa menimbulkan bahaya yang lebih besar, seperti kekacauan atau pertumpahan darah, kecuali jika ia jelas-jelas kafir. *Thoriq/Suara Hidayatullah MEI 2009

Email Autoresponder indonesia
author