Islam di Toraja: Minoritas Tapi Berkuasa

No comment 61 views
banner 160x600
banner 468x60

FOTO; partnershipten.bridge.wikispaces

Selama ini Tanah Toraja dikenal sebagai daerah Kristen. Masyarakatnya pun kemudian diidentikkan dengan agama tersebut. Benarkah semua orang Toraja identik dengan Kristen? Ahmad Rifa'i, koresponden majalah Suara Hidayatullah menemukan bahwa sebagian orang Toraja di Desa Marinding sudah menganut Islam dan menjadi orang penting di sana.

Untuk sampai ke desa Marinding, tidaklah sulit. Kendaraan ke sana sangat lancar. Maklum jaraknya tidak jauh dari Makale, ibukota Toraja, yaitu sekitar 7 Km.

Saya tiba di desa ini tepat subuh hari. Tak banyak yang bisa dilihat selain gereja dan tiang salib lengkap dengan lampunya yang berwarna warni. Ketika matahari mulai menjilatkan sinarnya, desa Marinding mulai menampilkan identitas aslinya. Rumah tongkonan lengkap dengan tanduk kerbaunya menghiasi hampir setiap halaman rumah. Di atas rumah khas Toraja ini biasanya disimpan padi yang sudah dipanen. Dibawahnya, yang tidak berdinding biasa digunakan menjamu tamu sambil menikmati kopi khas Toraja.

Setiap rumah juga dikawal oleh satu atau dua ekor anjing. Dari sekitar rumah-rumah itu, sesekali terdengar suara aneh. Ketika saya mencoba mencari sumber suara itu, ternyata berasal dari kandang babi yang tak jauh dari rumah penduduk. Memang di daerah ini, selain kerbau, babi menjadi binatang favorit yang banyak dipelihara warga.

Desa Mandiring dihuni oleh sekitar 4000 jiwa. Jumlah umat Islam sekitar 10 persen. Mereka adalah penduduk asli Toraja. Meski minoritas, namun mereka memiliki posisi yang cukup penting di desa tersebut. Buktinya, kepala desanya (Kades), Ahmad Dahlan adalah seorang Muslim. Bahkan, sudah beberapa periode ia dipercaya sebagai kepala desa.

"Saya pernah tidak mencalonkan diri tapi masyarakat memaksa," kata Dahlan. Memang sejak kepemimpinan pria yang selalu menang telak dalam setiap pemilihan ini, desa tersebut banyak mengalami kemajuan. Banyak jalan yang dibuka. Bantuan-bantuanpun bisa sampai ke tangan warga tanpa disunat. Umat Islam sendiri banyak merasakan kemudahan di bawah kepemimpinannya. Pasalnya pria jebolan Unhas (Universitas Hasanudin, Makasar) ini sangat perhatian dengan kondisi masyarakatnya, termasuk warganya yang Muslim.

Desa Marinding adalah satu-satunya desa di Toraja yang nuansa keislamannya nampak. Di desa ini terdapat empat buah masjid. Di semua masjid sudah rutin diadakan shalat Jum'at, dihadiri hampir semua umat Islam. Termasuk kaum hawa dan anak-anak. Mereka ikut hadir sebab usai shalat Jum'at ada pengajian, yang diadakan di rumah warga secara bergiliran.

Dakwah Islam di sini juga nampak semarak. Ini karena disamping adanya dukungan penuh dari kepala desa dan warga setempat, juga karena kedatangan seorang ustadz utusan dari Pesantren Imam Syafi'i Cilacap. Kedatangan sang ustadz ini tak lepas dari komunikasi dan silaturrahmi yang selalu digalang oleh Kepala Desa dengan lembaga-lembaga Islam di luar Toraja.

Yang patut disyukuri, umat Islam di desa ini sudah bisa mendirikan Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA). Jumlah muridnya mencapai 50 orang. Untuk mempererat ukhuwah, Kades dan ust. Nanang (da'i utusan Pesantren Imam Syafi'i itu) bersama warga mendirikan FUI (Forum Umat Islam). Salah satu programnya adalah mengadakan pengajian akbar sebulan sekali. Pada pengajian ini semua umat Islam di desa ini berkumpul di salah satu masjid untuk mendengarkan ceramah. Rencana ke depan, forum ini akan mendirikan madrasah diniah.

Kesadaran umat Islam akan pentingnya agama juga mulai tumbuh. Mereka menggiring anak-anaknya untuk datang ke TPA. Sebagian lagi menyekolahkannya di Pesanteren Muhammadiyah, pesantren satu-satunya di Toraja.

Di Mandiring, badan wakaf UMI (Universitas Muslim Indoneisa) pernah membangun Sekolah Menengah Pertama (SMP) Islam. Karena jumlah umat Islamnya sedikit, sekolah ini menjadi sekolah umum. Muridnyapun kebanyakan Kristen. Tapi dibanding sekolah lain, sekolah ini sedikit lebih aman dari gempuran pemurtadan. Sebab Kades Mandiring juga mengajar di sekolah yang lulusannya bisa menembus sekolah-sekolah favorit di Toraja. Selama ini, Dahlan bisa mengawal aqidah murid-muridnya. Bahkan pada momen-momen liburan, Dahlan bisa mengadakan Pesantren Kilat untuk murid-murid sekolah ini.

Horor Pemurtadan

Menurut cerita Dahlan, Islam masuk ke Tanah Toraja melalui pasukan Qahar Mudzakkar. Hutan dan gunung-gunung yang mendominasi Toraja kala itu menjadi magnet tersendiri bagi pasukan Qahar yang sedang dikejar-kejar oleh TNI. Bertepatan dengan itu, stabilitas keamanan di Desa Marinding juga tidak menentu. Akibatnya, beberapa penduduknya memutuskan 'hijrah' ke hutan.

Di dalam hutan, tanpa diduga, mereka bertemu dengan pasukan DI/TII yang dicap oleh pemerintah sebagai pemborontak. Sebagian dari mereka sempat ketakutan karena bertemu dengan orang-orang yang memanggul senjata lengkap dengan atribut militernya. Namun mereka baru sadar karena para tentara Qahar itu malah sangat ramah dan menghargai kedatangan warga. Pasukan Qahar yang sedang diburu oleh TNI bahkan dengan senang hati mengenalkan Islam kepada mereka. Dari situlah kemudian mereka mengenal Islam. Setelah turun ke desa, mereka juga mengenalkan kepada masyarakat sekitarnya.

Sayang, dalam perjalanan berikutnya, Islam kurang berkembang di Toraja. Ini dikarenakan kurangnya pembinaan. Banyak daerah atau kampung yang sama sekali tak pernah tersentuh dakwah. “Di antara kendalanya adalah kurangnya dana dan da'i,” kata Dahlan. Ini berbeda dengan Nasrani. Mereka mendapat sokongan dana yang berlimpah.

Meski Kristen sudah mayoritas, upaya pemurtadan tak pernah surut. Mereka masih tetap bernafsu berburu mangsa. Bidikan utama mereka adalah para siswa Muslim yang kebetulan belajar di sekolah-sekolah Kristen. Mereka tak segan-segan memaksa murid yang Muslim menghafal lagu-lagu rohani Kristiani. Tak aneh jika banyak murid TPA yang sekolah TK pada pagi harinya, sangat fasih melantunkan lagu-lagu Kristen.

Inilah yang membuat resah sebagian orangtua Muslim di Toraja. Sempat ada wacana mendirikan TK. Tapi permohonan itu ditolak mentah-mentah oleh Diknas dengan dalih, jumlah muridnya tidak memenuhi syarat untuk berdirinya sebuah TK Islam.

Belum lagi pergaulan tanpa batas antara Islam dan Kristen. Memang, sebagian mereka masih memiliki hubungan kerabat. Tapi kadang toleransi itu sudah keluar dari koridor syari'at. Kondisi ini membuat militansi sebagian umat Islam semakin menipis. Tanpa sengaja saya pernah membuka buku harian salah seorang murid SMA di Toraja. Isinya banyak memamerkan syi'ar Kristen. Banyak kata-kata mutiara yang ia kutip dari Injil. Yang lebih mengherankan lagi, di salah satu rumah Muslim yang pernah saya kunjungi, terpampang gambar Yesus berdampingan dengan gambar beberapa artis.

Cara lain yang mereka tempuh yaitu dengan menawarkan beberapa putra-putri Muslim untuk disekolahkan. Terutama yang masih memiliki hubungan keluarga. “Anak saya beberapa kali diminta sama omnya, tapi saya tidak mengijinkan karena khawatir dimurtadkan," tutur seorang warga yang tidak mau disebut namanya. Kebetulan warga ini memiliki saudara yang jadi pendeta di Toraja.

Terhadap pemurtadan ini, da'i-da'i yang menjadi harapan benteng umat Islam, tidak bisa berbuat banyak. Jumlah mereka sangatlah sedikit. Apalagi ada cara yang kurang elok yang dilakukan oleh oknum-oknum pejabat di sana terhadap seorang PNS yang kebetulan seorang da’i. Mereka selalu menjadi sasaran mutasi dan keluar dari Toraja. (Ahmad Rifa’i/Suara Hidayatullah APRIL 2008)

Email Autoresponder indonesia
author