Maroko: Negeri Para Sufi

No comment 24 views
banner 160x600
banner 468x60

Masjid Al Hasan II di kota Maroko

Maroko telah menjadi negara tujuan mahasiswa-mahasiswa Indonesia untuk belajar berbagai ilmu keislaman. Berbagai manfaat bisa dirasakan mahasiswa Indonesia yang belajar di sana. Selain mendapat disiplin ilmu yang diambilnya, para mahasiswa juga bisa berlatih berbahasa Perancis, karena sebagian besar penduduk Maroko kesehariannya menggunakan bahasa Perancis. Beberapa waktu lalu, Marfuah Musthafa, staf Kementerian Agama Republik Indonesia, berkesempatan mengunjungi Maroko. Berikut catatannya.

Saya berkesempatan mengunjungi Maroko selama lima hari dalam rangka mengantar 15 orang para kader pimpinan pondok pesantren dari Indonesia untuk mengikuti Program Takhassus Tafaqquh fid Din yang diselenggarakan di Universitas Ibnu Thufail, Kenitra. Kota Kenitra berjarak sekitar 30 kilometer dari Ibukota Maroko, Rabat. Waktu tempuh dari Rabat ke Kenitra dengan menggunakan mobil sekitar satu jam.

Program Takhassus Tafaqquh fid Din yang dilaksanakan selama tiga bulan ini (10 Desember 2011 sampai 10 Maret 2012) merupakan kerjasama antara Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI dengan Universitas Ibnu Thufail Maroko, khususnya Fakultas Adab dan Humaniora (Kulliyatul Adab wal Ulum Al-Insaniyah). Program ini terlaksana berkat bantuan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Rabat.

Dalam sambutannya di depan peserta, Dubes RI Tosari Wijaya mengatakan, program ini sebagai upaya mengangkat mutu pondok pesantren. Selain itu, sebagai perekat hubungan antara Maroko dan Indonesia.

Kalah Pamor
Saat pertama kali menginjakkan kaki di Maroko, saya disambut dengan suhu dingin, sekitar 18 derajat. Bahkan menurut informasi yang saya peroleh pada bulan Januari suhu bisa di bawah lima derajat. Tentu ini berbeda dengan suhu udara di kota-kota Indonesia. Banyak hal menakjubkan yang saya temukan di Negeri Seribu Zawiyah itu. Mulai dari suasana kota yang eksotik sampai modernnya lembaga-lembaga pendidikan di sana.

Sebelum abad 19, sebagai tempat menuntut ilmu nama Maroko kalah pamor dari negara-negara kawasan Masyriq Arabi (Makkah, Mesir, dan Sudan). Maroko, bersama Tunisia, Aljazair, dan Libya, termasuk negara kawasan Maghrib Arabi. Sejak abad 17 kawasan Timur Tengah sudah menjadi tujuan utama menuntut ilmu bagi para pelajar Nusantara. Sebut saja Syaikh Abdul Rauf as-Singkily, Syaikh Yusuf al-Makassari, Syaikh Abdul Shamad al-Palimbangi, Syaikh Arsyad al-Banjari, Syaikh Nawawi al-Bantani, KH Hasyim Asy’ari, dan KH Ahmad Dahlan. Mereka adalah ulama-ulama terdahulu produk Timur Tengah, tepatnya di Tanah Haram.

Muncul pertanyaan di benak saya, mengapa kawasan Maghrib Arabi baru belakangan terdengar? Ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Pertama, jarak yang lebih jauh. Kawasan Maghrib Arabi memang lebih jauh daripada kawasan Masyriq Arabi, sehingga tidak banyak penduduk Indonesia yang ke sana.

Kedua, kalah populer. Karena tidak banyak orang Indonesia yang berkunjung ke Maroko, maka nama Maroko pun tidak populer di telinga masyarakat Indonesia. Berbeda dengan kawasan Masyriq Arabi, khususnya Makkah, Arab Saudi. Namun, seiring dengan perkembangan teknologi, kendala jarak bukan lagi persoalan. Kini, negara-negara Maghrib Arabi pun menjadi tujuan untuk menuntut ilmu.

Thalabul Ilmi di Maroko

Di Maroko, bahasa Perancis merupakan bahasa resmi kedua setelah bahasa Arab. Saya kira ini menjadi nilai plus yang mesti dipertimbangkan mahasiswa Indonesia untuk menjadikan Maroko sebagai pilihan utama menuntut ilmu keislaman. Karena selain belajar bahasa Arab, mahasiswa Indonesia yang belajar di Maroko memiliki peluang besar untuk bisa berbahasa Perancis.

Bahkan di beberapa kota-kota tertentu bahasa Perancis lebih dominan daripada bahasa Arab. Berbagai acara formal maupun informal menggunakan bahasa Perancis.

Selain bahasa Perancis, di wilayah Maroko bagian Utara (Tetouan dan Tanger) bahasa Spanyol juga bisa menjadi bahasa pilihan untuk dipelajari. Wilayah ini langsung berbatasan dengan Spanyol (selat Gibraltar), dahulunya merupakan jajahan Spanyol. Karena itu, penduduk Maroko di dua kota tadi, banyak yang berbicara dengan menggunakan bahasa Spanyol dengan baik.

Di Maroko kita juga bisa mempelajari lebih mendalam madzhab Imam Maliki. Madzhab ini merupakan madzhab resmi kerajaan Maroko, sehingga kajian-kajian tentang madzhab Imam Maliki sangat lengkap. Kondisi di Maroko ini, berbeda dengan di Indonesia yang sebagian besar umat Islam hanya familiar dengan madzhab Imam Syafi’i. Nah, dengan mempelajari madzhab Imam Maliki kita bisa memperkaya wawasan mengenai jurisprudensi Islam dan bisa untuk perbandingan dengan madzhab yang selama ini dikenal umat Islam di Indonesia.

Selain itu, salah satu keunggulan Maroko sebagai tempat tujuan belajar adalah ilmu maqashid-nya. Maqashid merupakan ilmu yang menjadikan hikmah (wisdom) sebagai salah satu pertimbangan pengambilan hukum Islam. Imam Syatibhi adalah orang pertama yang mengkaji Maqashidus Syari’ah dalam karya monumentalnya al-Muwafaqaat.

Di Maroko, karya-karya yang mengkaji tentang Maqashidus Syari’ah sangat banyak, antara lain: Maqashidus Syariah al-Islamiyah wa Makarimuha (Syaikh Allal al-Fasi), Nadzariyat al-Maqashid ‘Inda al-Imam as-Syathibi (Dr Ahmad ar-Raisuni), dan Al-Fikr al-Ushuli wa Isykaliyat as-Sulthah al-Ilmiyah fi al-Islam: Qira’ah fi Nasy’at Ilm al-Ushul wa Maqashidus Syari’ah (Dr Abdul Majid as-Shugair). Di kampus-kampus Maroko juga banyak dibuka jurusan untuk mempelajari Maqashidus Syari’ah.

Yang juga menjadi keunggulan bagi para mahasiswa asing untuk belajar di Maroko adalah menikmati kajian tentang tasawuf, karena Maroko dikenal dengan Mamlakatu az-Zawaya (kerajaan dengan ribuan zawiyah). Di Maroko, kita bisa melihat bagaimana tempat berzikir para sufi (zawiyah) bermunculan bak jamur di musim hujan. Banyak aliran-aliran tasawuf yang memiliki tempat berzikir lengkap dengan model fana-nya, proses mendekatkan diri kepada Allah.

Dengan kelebihan-kelebihan tadi, kiranya Maroko layak dijadikan pilihan utama untuk menuntut ilmu selain Mesir, Arab Saudi, Sudan, dan sebagainya. Bahkan saat ini, ketika para alumnus Maroko telah kembali ke Indonesia, banyak yang merekomendasikan Maroko dijadikan tempat utama menuntut ilmu.

Berkunjung ke Marrakech

Rasanya tidak lengkap jika mengunjungi Maroko tanpa mampir ke Marrakech, salah satu kota favorit para wisatawan lokal maupun mancanegara. Di hari kelima di Maroko saya bersama teman-teman menyempatkan diri berkunjung ke Marrakech.

Kota Marrakech memang unik. Bangunan-bangunan di kota ini sebagian besar berwarna merah. Tidak heran jika banyak orang yang menjuluki kota ini dengan sebutan “Red City” atau Kota Merah. Di Marrakech terdapat Masjid Koutobiah, sebuah masjid unik bersejarah yang menjadi ikon Marrakech. Masjid ini dibangun sekitar abad ke 11 dan memiliki menara setinggi 77 meter.

Masjid Koutobiah dikelilingi oleh taman yang indah dengan trotoar bersih yang tersusun rapi untuk pejalan kaki. Di kawasan masjid ini tersedia delman untuk berkeliling. * SUARA HIDAYATULLAH, MEI 2012

Email Autoresponder indonesia
author