Naik-naik ke Puncak Senduro

No comment 29 views
banner 160x600

FOTO: mydesitube.com

Usaha mengembalikan penduduk Senduro ke “rumah” lama ternyata penuh liku. Selain medannya terjal, juga kerap mendapat teror.

Seorang lelaki setengah baya berjenggot tipis duduk di tengah kerumunan. Dia memakai mantel berwarna putih dan dua lapis baju dalam. Songkok putih kusut terbuat dari kain juga menghias di kepalanya. Sesekali, terlihat badannya menggigil menahan tusukan hawa dingin.

Sejumlah orang di sekelilingnya juga memakai jaket. Hanya bedanya, mereka mengenakan sarung yang diselempangkan di badan. Khas orang gunung. Maklum, Dusun Puncak, Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur ini berada pada ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Tak pelak, satu helai baju tidak cukup mengusir dingin.

Lelaki tersebut adalah Ali Farqu Thoha, dai yang telah 20 tahun lebih berdakwah di Senduro, nama kawasan ini biasa disebut. Pada akhir April lalu, di Masjid Jabal Nur yang baru dibangun, pria kelahiran Lumajang 28 Desember 1958 ini memberikan ceramah. Ringan dan penuh humor. Tak jarang banyak jamaah yang tertawa lebar.

Di sela-sela ceramahnya, sesekali Ali, demikian ia akrab disapa, bertanya kondisi ibadah para muallaf. “Bagaimana shalat lima waktu kalian, tidak bolong-bolong lagi kan?” tanya Ali sambil pandanganya menyapu jamaah. “Ya, insya Allah, jalan terus meski sering telat,” jawab Sukari, salah seorang jamaah. Ali pun bernafas lega. Berarti, usaha kerasnya selama ini membuahkan hasil.

Ceramah seperti itu secara rutin dilakukan Ali. Terkadang sepekan sekali. Atau juga bisa lebih, tergantung kebutuhan dan undangan. “Jika mereka membutuhkan, mau tidak mau, saya harus datang,” ujar ayah dua anak ini.

Selain untuk ceramah, Ali juga diundang untuk menangani masalah lain; urusan keluarga, cocok tanam, cekcok sesama warga, dan sebagainya. “Maklum, sudah tidak ada sekat lagi dengan mereka. Jadi, apa pun urusanya, biasa memanggil saya,” tutunya.

Dusun Puncak merupakan dusun tertinggi di Desa Argosari ketimbang tiga dusun lainnya; Gedok, Pusung Duwur, dan Bakalan. Wajar saja jika hawanya lebih menusuk. Selain itu, medannya juga menantang; terjal, licin, dan menanjak.

Di tempat ini, jika menjelang siang kabut tebal turun. Tak pelak, sejauh mata memandang hanya kabut putih yang terlihat. Jarak pandang pun hanya sekitar 15 meter. Sementara itu, untuk menempuh tiga dusun lainnya, butuh waktu sekitar 1-2 jam.

Menurut Ali, warga Argosari dulunya mayoritas Muslim. Terlihat dengan adanya peninggalan sejumlah mushalla. Namun, lantaran ditinggal dai, Islam kemudian redup, lalu mati. Mereka kemudian memeluk agama Hindu.

Nah, berkat kegigihan Ali dalam berdakwah, alhamdulillah, mayoritas masyarakat bisa kembali ke jalan yang benar, Islam. Sekarang, sekitar 80 persen sudah kembali memeluk Islam. Ibaratnya mereka itu sudah kembali ke “rumah” lama.

Mendapat Teror
Ali sendiri memulai debut dakwahnya sekitar 20 tahun silam. Tanpa kendaraan dan hanya berjalan kaki. Padahal, jaraknya sangat jauh dan berliku. Tak pelak, memakan waktu sekitar 3-4 jam.

Karena mad’u (objek dakwah) mayoritas Hindu, Ali pun menggunakan model dakwah 3 K (kelihatan, kenal, dan kena). Salah satu caranya dengan mengucapkan salam kepada setiap orang yang dijumpainya.

Tak begitu lama, mereka pun tertarik terhadap Islam. Banyak pertanyaan seputar Islam yang mulai diajukan. Namun, Ali berhati-hati memberikan penjelasan. Khususnya pada persoalan sensitif; neraka, surga, halal dan haram. “Jangan sampai mereka takut duluan. Karena itu, saya sangat berhati-hati menjawabnya,” ujarnya. Seiring dengan berputarnya waktu, satu per satu masyarakat Senduro mau kembali memeluk Islam.

Kebanyakan mereka masuk Islam karena alasan sederhana, kebersihan. “Kalau di Hindu, masuk Pura pakai sandal. Tapi, di Islam, masuk masjid harus dilepas,” tutur Karyo Slamet yang sebelumnya beragama Hindu.

Hal serupa dialami Sukari. Mantan tokoh Hindu ini sebelum masuk Islam, selalu merasa tidak tenang. Tetapi, usai masuk Islam, hidupnya bisa lebih tenang dan bahagia. “Entah kenapa, setelah masuk Islam, hidup ini lebih bahagia,” ucapnya.

Nampaknya, hal senanda juga banyak dialami orang Hindu lainnya. Tak pelak, dari waktu ke waktu, satu per satu dari mereka banyak yang memeluk Islam. Hingga angka umat Islam menjadi kian naik drastis, mencapai 80 persen lebih.

Hal tersebut nampaknya menjadi ancaman sejumlah pihak. Mungkin saja, mereka takut jika Islam berkembang pesat di sana. Karena itu, Ali pun mulai mendapat teror.

Suatu saat, Ali mendapat pesan singkat (SMS) bernada ancaman dari orang tak dikenal. Isi SMS itu tertulis, “Hentikan dakwah Islam di Senduro, jika tidak ingin istrimu menjadi janda dan anakmu menjadi yatim.”

Tidak cuma sekali, menurut Ali, SMS seperti itu hampir setiap hari masuk di layar ponselnya. Apakah Ali takut? Ternyata Ali tidak gentar sedikit pun. “Barang siapa yang menolong agama Allah. Maka dia akan ditolong Allah,” jawab Ali tegas. Benar saja, ternyata SMS tersebut tidak terbukti. Dia dan keluarganya masih sehat dan utuh.

Tidak itu saja. Ali bersama Sutomo pernah dihadang 70 orang tak dikenal selepas pulang dakwah dari Dusun Bakalan. Mereka bertampang sangar. Mirip preman bayaran. “Ali, hentikan dakwahmu! Jika tidak, lihat saja apa yang akan terjadi nanti,” teriak salah seorang dari mereka.

Ketika itu, jam menunjukkan pukul 10 malam. Gelap gulita. Tak ada seorang pun selain mereka. Jadi, seandainya terjadi sesuatu pasti tidak akan ada yang menolong. Ali hanya terdiam dan berdoa. Tapi, hal itu tak membuat mereka berhenti berteriak. Justru makin berani. Tiba-tiba, tak dinyana Sutomo bertakbir. “Allahu Akbar,” teriaknya sekuat tenaga. Aneh, entah kenapa tiba-tiba 70 pria sangar itu lari tunggang langgang setelah mendengar takbir pria yang buta itu.

Tantangan Alam
Ternyata, rintangan berdakwah di Senduro bukan hanya itu saja. Keadaan alam juga menjadi ujian yang tak kalah beratnya. Pasalnya, medan yang sulit jika tidak hati-hati bisa berbahaya.

Suatu hari, sekitar pukul 10 malam, Ali pulang dari Dusun Gedok ke rumahnya di Lumajang. Dia mengendarai sepeda motor. Karena motor lawas, suaranya meraung-raung. Keras sekali. Apalagi jika harus melewati tanjakan. Malam yang sunyi itu dipecahkan oleh suara motornya.

Tiba-tiba, dari arah berlawanan, ada sebuah truk lewat dengan kecepatan tinggi. Kebetulan jalannya sempit dan menanjak. Karena takut keserempet, lantas Ali mengarahkan motornya ke pinggir jalan. Naas, karena tak seimbang, Ali terjatuh. Ia pun masuk ke jurang. Untung saja tak dalam. Alhamdulillah, Ali selamat. Meski tak apa-apa, kata Ali, sekujur tubuhnya seperti remuk.

Meski begitu Ali tetap menjalani dakwah ini dengan bahagia. Sangat jarang ada dai yang bertahan dakwah di tempat itu.

Syukurnya, Ali pun sangat terbantu setelah kerjasama dengan Warsito, dai dari Hidayatullah Lumajang. Berkat kerja sama itu, dakwah di Senduro makin tertata. Jika Ali fokus berdakwah di Senduro, maka Warsito mencari dana ke sejumlah instansi, terutama Baitul Maal Hidayatullah (BMH), baik di Surabaya maupun Malang. Kini, di Senduro telah ada sejumlah sarana ibadah; 4 masjid dan 10 mushalla.

Tak hanya itu, Warsito sendiri sering berdakwah ke Senduro. Dengan motor Suzuki GX tahun 1995, ia naik turun bukit bersama Ali untuk menyemai Islam di sana. *Syaiful Anshor/Suara Hidayatullah JULI 2010

Email Autoresponder indonesia
author